
Kebersamaan Presiden Joko Widodo (Kiri) dan Presiden Joe Biden (Kanan) (id.usembassy.go.id)
JawaPos.com - Menurut juru bicara AS yang mengumumkan pada Selasa (7/11), Presiden Joe Biden akan menjamu Presiden Indonesia Joko Widodo di Gedung Putih pada 13 November.
Pertemuan dengan Joko Widodo di Gedung Putih terjadi tepat sebelum Biden melakukan perjalanan ke San Francisco akhir pekan ini untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik di San Francisco.
Selain itu, perlu dicatat bahwa Joe Biden dan Joko Widodo juga telah berbicara pada KTT G20 di New Delhi pada bulan September, menunjukkan hubungan kerjasama yang erat antara kedua negara.
Dilansir dari barrons.com oleh JawaPos.com, Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre menyampaikan, dalam pertemuan bilateral mereka, Biden ingin menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat.
Untuk memperdalam kemitraan selama hampir 75 tahun antara negara demokrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia itu.
Biden dan Widodo, yang akan meninggalkan jabatannya tahun depan setelah masa jabatan keduanya berakhir, memiliki agenda yang mencakup sejumlah isu penting.
Salah satu fokus utama pertemuan mereka adalah masalah ekonomi, di mana keduanya berencana untuk menjajaki cara meningkatkan kerjasama ekonomi antara kedua negara.
Selain itu, mereka juga akan membahas inisiatif energi bersih, mencari cara untuk mempromosikan teknologi ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam sektor energi, serta upaya bersama untuk mengatasi isu-isu perubahan iklim global.
Pada aspek geopolitik, pertemuan ini juga akan mencakup pembicaraan tentang cara-cara untuk meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.
Ini mencakup upaya bersama untuk mengatasi isu-isu keamanan dan kestabilan di kawasan Asia-Pasifik yang penting.
Kedua pemimpin akan berusaha mencari solusi untuk menghadapi tantangan-tantangan ini dalam upaya menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.
"Mereka juga akan berkoordinasi dalam upaya memperkuat sentralitas ASEAN dan menegakkan hukum internasional, merujuk pada blok Asia Tenggara yang tidak mencakup Tiongkok.” dikutip secara tertulis dari barrons.com oleh JawaPos.com.
Pemerintahan AS di bawah Biden telah dengan tegas menyatakan perlawanan terhadap Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik sebagai salah satu prioritas utamanya dalam kebijakan luar negeri.
Ini tercermin dalam serangkaian tindakan, termasuk peningkatan kehadiran militer dan diplomasi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Upaya ini bertujuan untuk mengamankan posisi Amerika Serikat sebagai kekuatan utama yang mendukung stabilitas dan perdamaian di wilayah tersebut.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
