Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Januari 2024 | 18.35 WIB

Melekat dengan Sosok Benito Musolini, Berikut 3 Fakta Karakteristik Ideologi Fasisme yang Sempat Menguasai Eropa pada Perang Dunia II

Italian Fascist National Symbol/Image by Bettman - Image

Italian Fascist National Symbol/Image by Bettman

JawaPos.com – Hampir semua orang mengenal Benito Musolini. Sosok Penting di Italia pada masa Perang Dunia II ini sangat lekat dengan ideologi fasisnya.

Fasis merupakan sebuah ideologi politik yang bekermbang di Eropa sekitar tahun1919 hingga tahun 1945.

Dilansir dari britannica.com, pemimpin pertama ideologi fasisme di Eropa adalah Benito Mussolini. Mussolini memberi nama partai atau gerakannya dari kata latin ‘fasces’.

Kata ‘fasces’ sendiri merujuk pada seikat batang elm atau ulmus (biasanya berisi kapak) dan simbol ini digunakan sebagai bentuk otoritas pidana pada zaman Roma kuno.

Pada akhir perang dunia II, partai-partai fasis yang ada di Eropa sebagian besar hancur dan dibubarkan. Bahkan, di Italia dan Jerman Barat yang merupakan basis terbesar ideologi ini pun turut serta melarang keberadaanya.

Partai dan gerakan yang mengusung ideologi fasisme sempat mengalami masa kejayaan pada tahun 1922 hingga tahun 1945.

Beberapa gerakan dan partai fasis yang dikenal cukup besar dalam sejarah diantaranya, National Fascist Party yang dipimpin Benito Mussolini di Italia, Nazi Party yang dipimpin Adolf Hitler di Jerman, hingga Fatherland Front yang diketuai oleh Engelbert Dollfuss di Austria.

Gerakan yang disinyalir berjalan dengan ideologi fasisme mempunyai beberapa karakteristik umum di dalamnya:

1. Menjadi Oposisi Marxisme

Sudah bukan menjadi rahasia bahwa gerakan dengan ideologi fasisme memiliki kebencian pada ideologi marxisme apapun jenisnya baik totalitarian komunis hingga sosialis demokratis.

Mussolini membuat reputasi pertamanya sebagai pimpinan fasis dengan melepaskan pasukan bersenjata untuk melawan kaum proletar seperti pekerja dan petani pada kisaran tahun 1920-1921.

Begitu Pula pada akhir perang dunia ke 1, banyak anggota nazi generasi awal yang bertugas di Freikorps (kelompok paramiliter yang dibentuk mantan tentara) melakukan banyak tekanan dan intimidasi kepada aktivis sayap kiri Jerman kala itu.

Begitu pula pada tahun 1933, Adolf Hitler secara rutin mengirim ratusan aktivis marxis Jerman ke Kamp Konsentrasi dan melakukan intimidasi kepada mereka.

2. Menjadi Oposisi Demokrasi Parlementer

Gerakan fasis mengkritik demokrasi parlementer atas sikap membiarkan ancaman gerakan marxis.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore