Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Mei 2025 | 01.24 WIB

Cara Menghentikan Kebiasaan Membeli Buku dengan Impulsif dan Memulai untuk Membaca

Ilustrasi membeli buku. (Freepik) - Image

Ilustrasi membeli buku. (Freepik)

JawaPos.com - Di rak-rak rumah, sering kali berdiri tegak deretan buku yang tampak menjanjikan. Sampulnya menarik, judulnya menggugah, dan beberapa bahkan masih terbungkus plastik.

Namun, banyak dari buku-buku itu belum pernah dibuka, apalagi dibaca. Fenomena ini bukan hal langka dan ternyata, ada istilah khusus untuk menggambarkannya, yakni tsundoku.

Diadaptasi dari istilah Jepang, tsundoku merujuk pada kebiasaan membeli buku namun tidak pernah membacanya.

Bukan karena buku-buku itu tidak layak dibaca, tetapi karena dorongan untuk memiliki lebih cepat datang dibandingkan kesediaan untuk menyelami isinya. Keinginan untuk membaca berubah menjadi sekadar impuls membeli.

Fenomena ini semakin meluas di era modern, saat akses terhadap buku semakin mudah dan promosi penjualan semakin agresif.

Lalu bagaimana cara menahan diri agar tidak terjebak dalam pola konsumtif ini? Bagaimana cara kembali kepada esensi membaca, yakni sebagai pengalaman personal dan reflektif, bukan sekadar perilaku kolektif yang digerakkan oleh tren?

Membeli Buku Bukanlah Membaca Buku

Dilansir dari YouTube Robin Waldun, dahulu, memiliki buku adalah sebuah kemewahan. Di masa sebelum mesin cetak, buku hanya dimiliki oleh kalangan terbatas. Kini, buku bisa dibeli kapan saja, di mana saja, dalam bentuk fisik maupun digital.

Masuk ke toko buku kini lebih mirip dengan pengalaman berbelanja di mal, banyak pilihan, warna-warni promosi, dan dorongan untuk "mengoleksi" buku terbaru.

Namun perlu diingat, membeli buku bukanlah tindakan membaca. Aktivitas membeli adalah bagian dari konsumsi, bukan intelektualisasi. Ada perbedaan besar antara menumpuk bacaan dengan membiarkan diri diubah oleh isi buku tersebut.

Ketika membeli buku, sering kali yang dibeli hanyalah potensi, belum tentu akan diwujudkan dalam tindakan membaca yang sesungguhnya. Robin Waldun, a longlife leaner, membagikan tips-tips menyiasati Tsudoku.

Tiga Langkah Menghadapi Tsudoku

Untuk keluar dari jebakan tsudoku, dibutuhkan kesadaran dan kebiasaan baru. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

1. Cicipi Buku Sebelum Membeli

Sebelum memutuskan membawa pulang sebuah buku, luangkan waktu untuk membacanya secara singkat. Buka halaman-halaman awal, sekitar 10 hingga 15 halaman pertama, dan rasakan bagaimana tulisan itu berbicara. Apakah gaya bahasanya menyentuh? Apakah gagasannya terasa relevan atau malah asing?

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore