
TEMPAT LAHIR CHENG HO: Rumah yang telah direnovasi yang dulu merupakan tempat kelahiran Cheng Ho di kota Kunyang, provinsi Yunnan , China 25/5/2017. selain direnovasi, pemerintah China juga mendirikan museum tentang pelayaran Cheng Ho dan Taman.
SALAH satu yang membuat Cheng Ho (Zheng He) makin istimewa di mata muslim bukan hanya capaiannya dalam bidang maritim, tetapi juga silsilahnya. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa Cheng Ho adalah seorang habib. Atau keturunan Rasulullah Muhammad SAW. Hal tersebut memang menjadi pendapat banyak ilmuwan.
"Pembuktiannya memang sulit. Tapi, sejauh ini juga tidak ada yang bisa membantahnya sama sekali. Bukti yang ada justru mengarah ke hal itu," jelas Yang Liyun, staf pengelola Taman Nasional Cheng Ho.
Sejarawan cum sastrawan Indonesia Remy Sylado mengungkapkan hal yang sama. "Bisa jadi memang seperti itu," kata pria yang juga pakar soal Tiongkok itu.
Teori itu memang sempat diragukan awalnya. Sebab, penggambaran-penggambaran dalam lukisan maupun patung Cheng Ho menunjukkan figur yang khas Tiongkok. Namun, jika diperhatikan gambaran garis wajah, juga tidak terlalu Tiongkok. Jarang sekali penggambaran Cheng Ho dengan alis panjang dan janggut panjang seperti halnya pahlawan Tiongkok lainnya macam Jenderal Guan Yu.
Dari sumber primer seperti Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming), tidak banyak cerita tentang Cheng Ho. Hanya disebutkan, Cheng Ho berasal dari Provinsi Yunnan dan dikenal sebagai kasim San Bao (dibaca San Pao). Dia adalah anak kedua pasangan Ma Hazhi dan Wen. Cheng Ho punya seorang kakak laki-laki dan empat adik perempuan. Selebihnya hanya bercerita tentang bagaimana Cheng Ho menjadi tangan kanan Zhu Di dan memimpin armada laut Tiongkok dalam tujuh ekspedisi antara 1405-1433.
Lalu, bagaimana ceritanya keturunan Rasulullah Muhammad SAW berada di Tiongkok? Sejumlah pakar menyebutkan bahwa Cheng Ho keturunan ke-37 Rasulullah dari silsilah Imam Hussein. Bermula ketika Raja Mongol Genghis Khan menyerbu ke mana-mana, termasuk Bukhara (Uzbekistan sekarang) dan Tiongkok. Dari penaklukan itu, Genghis Khan membunuh Sultan Bukhara, yang disebut dalam bahasa Mandarin Sultan Mahamuke.
Selain membunuh sang raja, pasukan Mongol menangkap putranya, Sayid Syamsudin. Karena dianggap berkelakuan baik, cerdas, dan yang terpenting tidak dianggap ancaman, Syamsudin dibebaskan. Tak hanya dibebaskan, tapi juga diberi jabatan sebagai penolong menteri (seperti gubernur) di Yunnan.
Keluarga Cheng Ho dikenal sebagai keluarga yang religius. Sehingga panggilan sehari-harinya untuk ayah Cheng Ho menjadi Ma Hazhi. Atau Haji Muhammad. Ma memang penyebutan Muhammad dalam bahasa Mandarin. Sedangkan hazhi adalah haji. "Penyebutannya ha (tje) kalau dalam lafal Mandarin," kata Xu Meilan, seorang mahasiswa jurusan bahasa Indonesia Yunnan University yang menjadi guide kami.
Panggilan "Pak Haji" kepada ayahanda Cheng Ho itu terus menjadi panggilannya dalam semua literatur. "Semua orang lebih mengenal Ma Hazhi ketimbang Mi Lijin sebagai ayahanda Zheng He," kata Yang Liyun.
Peran Penting Muslim di Abad Pertengahan
Sebagai bangsa penjajah, sangat wajar jika Dinasti Yuan tidak disukai suku Han yang dominan di Tiongkok saat itu. Selain merasa sebagai bangsa jajahan, ada satu hal lagi yang tidak disukai bangsa Han. Yakni merasa ada diskriminasi.
Kebijakan Dinasti Yuan saat itu memang lebih mengutamakan orang-orang non-suku Han untuk duduk di jabatan strategis. Dari sudut pandang Dinasti Yuan, tentu itu kebijakan masuk akal. Sebab, mereka tahu, jika menempatkan orang-orang Han di jabatan strategis, kejatuhan dinasti mereka akan kian cepat. Sebab, Dinasti Yuan dibangun berdasar superioritas militer bangsa Mongol ketimbang merangkul rakyat Tiongkok.
Situasi seperti itulah yang membuat banyak non-suku Han seperti kakek dan ayah Cheng Ho menjadi pejabat dalam Dinasti Yuan. Khusus untuk umat Islam, banyak orang di Tiongkok yang memercayai akhlak seorang muslim.
Itu terbukti dalam masa akhir Dinasti Yuan. Banyak sarjana maupun jenderal muslim. Di antaranya adalah Jenderal Lan Yu, jenderal kesayangan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming. Jenderal itulah yang menghancurkan Mongol hingga tak lagi menjadi ancaman keamanan bagi Tiongkok.
Namun, pergantian dinasti tersebut membawa petaka bagi keluarga Cheng Ho. "Ayahnya meninggal pada penaklukan Yunnan saat berusia 39 tahun," kata Yang Liyun. "Tapi, tidak jelas apakah meninggal dalam pertempuran atau menjadi korban dari peperangan itu. Tidak ada keterangan lebih lanjut," imbuhnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
