
Ilustrasi
JawaPos.com - Kunjungan Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Istibsyaroh ke Presiden Israel, Reuven Rivlin pada Rabu (18/1) menuai kritik tajam. Pasalnya, Indonesia selalu menentang sikap Israel yang terus menyerang Palestina.
Menurut Anggota Komisi I DPR Sukamta, seharusnya mereka yang hadir itu memahami konstitusi Indonesia dan juga sikap MUI. Termasuk kondisi kebatinan masyarakat Indonesia yang sebagian besar memang menolak Israel.
"Tindakan ini jelas menciderai perasaan dan konstitusi bangsa Indonesia," tegasnya melalui pesan singkat, Jumat (20/1).
Apalagi, lanjut dia, pasca kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, kedudukan Israel bisa lebih kuat.
Sebab, Trump berjanji akan memindahkan Kedubes Amerika ke Yerusalem sebagaimana ada yang mengklaim ibukota Israel yang seharusnya adalah Yerusalem.
"Jangan sampai dengan kejadian ini Indonesia juga terkesan mendukung hal itu. Sepertinya Indonesia perlu menegaskan bahwa kehadiran mereka tidak mewakili sikap resmi Indonesia," pinta Sukamta.
Sekretaris Fraksi PKS itu menambahkan, kehadiran Istibsyaroh yang tidak mewakili MUI untuk memenuhi undangan Presiden Israel Reuven Rivlin sangat tidak patut. Jika alasannya untuk diplomasi mewujudkan perdamaian di Palestina, jelas itu tidakla tepat.
Sebab, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. "Indonesia dalam konstitusinya tegas menolak penjajahan yang secara tegas tidak mengakui entitas negara Israel," tegasnya.
Sukamta mengatakan, perjuangan diplomatik Indonesia untuk Palestina hanya dilakukan melalui PBB. Diketahui, sudah ada resolusi UNESCO 16 Oktober, menyalahkan Israel yang telah melakukan pengrusakan terhadap Masjidil Aqsha.
Lalu Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 2334 pada 23 Desember 2016 tentang penghentian pemukiman Israel di semua wilayah pendudukan Palestina dan tidak ada satu pun negara yang memveto, Amerika Serikat juga abstain.
Dengan resolusi PBB tersebut, situasi dunia lebih kondusif untuk memperjuangkan Palestina, yang harusnya menjadi kesempatan RI menfollow up hasil Kenferensi Luar Biasa OKI 6-7 Maret 2016 lalu di Jakarta, karena badan-badan utama PBB sudah membuat resolusi utama.
Kesempatan ini mustinya bisa dimanfaatkan maksimal oleh Pemerintah RI.
Namun, hal itu dicederai dengan kehadiran Istibsyaroh menemui Presiden Israel. "Kehadiran mereka tadi justru mensupport Israel dan tidak menghormati putusan PBB tersebut," kesal Sukamta.(dna/JPG)

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
