alexametrics

Menelusuri Sisa-Sisa Kampung Begal di Lampung (1)

Pelaku Insaf, Pilih Jadi Guru Ngaji
20 Mei 2019, 17:01:16 WIB

Dulu begal begitu lekat dengan kehidupan warga Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Bisa dibilang, tiada hari tanpa kejahatan. Bisa siang hari ataupun magrib. Namun, perlahan kehidupan berubah.

“Masih rawan begal di Lampung?” tanya seorang pria yang mengetahui Jawa Pos akan ke Lampung. Obrolan seputar kejahatan begal sepeda motor di Lampung cukup panjang waktu itu. Sampai akhirnya jam keberangkatan pesawat Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Raden Inten II Bandar Lampung yang kami nantikan tiba: pukul 07.35.

Hari itu Jawa Pos menuju Tulang Bawang Barat. Kabupaten yang diresmikan pada 2008 tersebut berjarak 101 kilometer dari Bandara Raden Inten II. Untuk menuju ke sana, pengunjung bisa menumpang bus dengan ongkos Rp 30 ribu. Bisa juga naik travel. Cuma membayarnya lebih mahal, sekitar Rp 200 ribu. Diperlukan waktu tiga jam untuk sampai ke sana.

Konon, tak ada wilayah di Lampung yang aman dari begal. Kabar itu menyebar getok tular di lingkungan warga setempat. Bahkan, hal tersebut melekat sebagai stigma: “Lampung kampung begal”. Rumor itu juga sampai ke Jakarta dan daerah lain di Jawa. Pun, tempat kejadiannya menyebar di seluruh kabupaten. Mulai Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tulang Bawang Barat, hingga Mesuji.

Jawa Pos mencoba menelusuri kebenaran kabar tersebut. Warga di sana mengarahkan Jawa Pos pergi ke Dusun Tiyuh, Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Tulang Bawang Barat. Konon, tingkat kerawanan di sana hampir sama dengan Surakarta, Lampung Utara dan Jabung, Lampung Timur. Dua nama desa terakhir itu lebih dulu dicap sebagai kampung begal.

Saat melintas di wilayah Tulang Bawang Barat, jalanan begitu rusak. Bahkan, di beberapa ruas utama kondisinya memprihatinkan. Di salah satu titik di Desa Mulyo Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, misalnya, kubangan besar nyaris memenuhi badan jalan.

Begitu pula halnya ketika sampai di wilayah Gunung Menanti. Jalan utama di desa yang berbatasan dengan Lampung Tengah dan Lampung Utara itu hanya dibalut aspal tipis. Lebar jalan 2,5 meter, berdebu dan dipenuhi batu kecil sisa material pengerasan jalan. Jembatan Sungai Way Terusan selebar 5 meter menjadi “pintu gerbang” masuk desa tersebut. “Dulu di jembatan itu sering ada begal,” kata Kepala Tiyuh (Desa) Gunung Menanti Hariyanto saat ditemui Jawa Pos di rumahnya beberapa waktu lalu.

KAMPUNG BEGAL: Pos Ronda Rt 03 Suku 4 Tiyuh Pulung Kencana Kec. Tulang Bawang Tengah Kabupataen Tulang Bawang Barat. (AGUS DWI PRASETYO/ JAWA POS)

Pada Januari 2016 polisi pernah menggerebek gembong begal di Tiyuh. Yaumin, pimpinan kelompok begal di sana, ditembak di bagian kaki saat penangkapan. Dia akhirnya tewas saat dirawat di puskesmas setempat.

Kisah Yaumin adalah satu di antara cerita begal dari Gunung Menanti. Yanto -sapaan akrab Hariyanto- menceritakan, di luar itu banyak lagi kisah tentang begal yang berkeliaran dan “bermarkas” di desanya. Puncaknya, pada 2016, kejadian begal motor bisa sepuluh kali dalam sebulan. Hanya, mayoritas tidak dilaporkan ke polisi. Sehingga cerita tersebut menguap begitu saja. “Dulu orang jualan kerupuk saja enggak berani masuk (ke Gunung Menanti, Red) karena takut dibegal,” kenang Yanto yang baru menjabat kepala desa sejak November 2018.

Desa tersebut berpenghuni 2.565 penduduk. Sebagian besar buruh tani. Kalaupun punya tanah, mereka menanam singkong. Sebanyak 548 di antaranya dikategorikan miskin. Dan hanya 12 orang yang tercatat lulus pendidikan strata satu dan dua.

Yanto mengakui bahwa kampung kelahirannya itu memang dikenal sebagai daerah rawan begal beberapa tahun belakangan. Kejadiannya kebanyakan siang atau menjelang magrib. Modusnya macam-macam. Menghadang korbannya di jalan atau di ladang dengan mengancam menggunakan senjata api (senpi) atau senjata tajam (sajam). “Kebanyakan (lokasi pembegalan, Red) di ladang,” kata pria 40 tahun itu.

Sejauh ini di Gunung Menanti ada lima warga yang tercatat pernah berurusan dengan polisi dan sempat menjalani pemidanaan. Berdasar cerita dari warga setempat, pelaku biasanya menyasar motor yang ditunggangi ibu-ibu. “Kalau melawan ya dilukai,” kata warga yang tak ingin disebut namanya itu.

Masih kata warga tersebut, motor-motor hasil begal ditampung di salah seorang anggota komplotan begal. Kemudian, sebagian suku cadangnya dipereteli. Ada juga motor yang dijual utuh dengan harga miring kepada penadah. “Kebanyakan dijual di luar desa. Duitnya ya buat makan. Kadang juga buat beli narkoba,” ungkap pria keturunan Jawa itu.

Sekarang mantan pelaku begal, terutama yang pernah berurusan dengan hukum, menjalani kehidupan normal sebagaimana warga biasa. Hal tersebut dibuktikan dengan penyerahan sepucuk senpi rakitan jenis revolver berikut tiga butir amunisi aktif kaliber 9 milimeter kepada aparat. Penyerahan itu dilakukan November tahun lalu oleh salah seorang warga yang diduga bekas begal.

Saat ini Yanto mengklaim bahwa desanya relatif mulai aman. Pelaku-pelaku begal mulai insaf. Sulaiman salah satunya. Bekas begal tersebut sekarang tekun belajar agama. Dia kini mengabdi sebagai guru mengaji di salah satu masjid desa. Selain itu, sebagian lainnya bekerja di salah satu perusahaan perkebunan tak jauh dari desa tersebut. “Sekarang pedagang sudah mulai masuk (berjualan keliling desa, Red),” ujarnya.

Perubahan itu, menurut Yanto, tidak terjadi ujuk-ujuk. Selama setahun terakhir, pihak desa menginventarisasi para pemuda yang menganggur. Kemudian mencarikan pekerjaan untuk mereka. Selain itu mendorong kegiatan religi masyarakat, misalnya menghidupkan majelis taklim di seluruh masjid. “Sebab, saya yakin tingkat kriminalitas itu karena menganggur. Hidupnya susah,” paparnya.

Yanto punya cita-cita mengajak seluruh pemuda dan kepala desa tetangga berkunjung ke desanya. Tujuannya, menguatkan jalinan persahabatan antar pemuda agar tak ada lagi gesekan. Dan yang paling penting, saling menjaga ketika terjadi permasalahan di desa masing-masing. “Intinya menjalin kekeluargaan dengan tiyuh (desa, Red) lain,” ungkapnya.

Kapolsek Tumijajar AKP Dul Hafid menambahkan, sejak dirinya berdinas di wilayah tersebut November tahun lalu, tidak ada laporan tindak kejahatan yang berkaitan dengan Gunung Menanti. Khususnya begal atau kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas). “Secara umum, tingkat kriminal (di Gunung Menanti, Red) kondusif,” ujarnya saat ditemui terpisah.

Sejauh ini Dul Hafid dan jajaran kepolisian intensif datang ke Gunung Menanti dan desa-desa tapal batas lain. Dia juga menyebutkan, institusinya dan pemerintah daerah setempat rutin menggelar bakti sosial serta mengatur sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Semua upaya tersebut dilakukan untuk membangkitkan semangat warga desa tapal batas agar tidak merasa jauh dari perhatian pemerintah dan aparat. Juga untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat lain. Dan memudarkan stigma “Lampung kampung begal” yang saat ini telanjur menyebar di kalangan masyarakat luar.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (tyo/c9/git)