Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Oktober 2018 | 20.41 WIB

Bertamu ke Rumah "Muklis" & "Gundul" di Taman Nasional Tanjung Puting

Gundul terlihat anteng saat rombongan memotretnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Senin (8/10). - Image

Gundul terlihat anteng saat rombongan memotretnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Senin (8/10).

JawaPos.com - Bisa bertemu orang utan dari jarak dekat adalah "kemewahan" yang ditawarkan Taman Nasional Tanjung Puting. Pulangnya, di sisi kanan-kiri sungai, giliran bekantan yang memberikan hiburan.


FERLYNDA PUTRI, Kotawaringin Barat


---


KALAU nama Anda Muklis dan kebetulan sedang berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting, jangan gampang geer. Nama Anda memang bakal berkali-kali disebut.


Tapi, bukan karena Anda terkenal ya. Muklis di taman nasional yang terletak di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, itu panggilan untuk seorang, eh seekor orang utan. Satu di antara 4 ribuan yang ada di sana.


Kami, rombongan wartawan Kementerian Perhubungan, bersirobok dengan Muklis pada Senin pekan lalu (8/10). Saat akan meninggalkan camp. Kira-kira 200 meter dari Dermaga Tanjung Harapan, tempat perahu kelotok kami bersandar.


Muklis kelihatan bingung. Apalagi, saat dua puluhan anggota rombongan mengeluarkan kamera atau ponsel untuk memotret. Sambil berucap, "Muklisss...," lalu cekrek ketika yang dipanggil menoleh.


Tubuhnya yang besar tentu tak bisa tersamarkan oleh ranting kecil maupun daun-daun. Kami semakin mendekat. Berisik. "Jangan berisik," ucap salah seorang dari rombongan. Disusul dengan suara sssstttt yang muncul dari mulut beberapa orang lainnya.


Itulah "kemewahan" berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Bisa melihat orang utan atau bekantan di suaka alam yang menjadi rumah alami mereka. Dari jarak dekat.


Tapi, ada syaratnya. Yang pertama, itu tadi, jangan berisik. Pemandu tur Juliandra Dede Mambat memang sebelumnya mengingatkan betul soal itu.


"Mereka itu tidak bisa ngomong. Ketika ada yang berisik, jadi merasa terganggu," kata pria yang akrab disapa Dedek tersebut.


Selain tidak boleh berisik, larangan lainnya adalah jangan menatap terlalu lama. Tidak boleh juga mendongakkan kepala. Dua bahasa tubuh itu memberi tanda menantang bagi orang utan. Syarat lainnya, pengunjung harus menjaga jarak.


Jangan coba-coba tidak mematuhi syarat-syarat tersebut. Itu berarti cari gara-gara. Situ mau tarung sama binatang yang bobotnya bisa mencapai 100 kilogram? Hehehe.


Untuk bisa sampai ke Tanjung Harapan, stasiun pertama rehabilitasi orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, bisa melalui Pelabuhan Kumai di Teluk Kumai. Jalan satu-satunya adalah dengan perahu atau boat. Sekitar 1,5 jam perjalanan masuk Sungai Sekonyer.


Nah, setelah bertemu Muklis, Surya atau akrab disapa Pak Eweng, pemandu tur kami lainnya, mengajak kami kembali berjalan. "Muklis memang sering datang ke camp kalau lapar. Minta makan. Dia jinak," katanya saat rombongan sudah memasuki hutan hujan tropis di wilayah tersebut.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore