Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Januari 2018 | 21.00 WIB

Mengenang Almarhum Daoed Joesoef, Akademisi dan Penulis

Mantan Mendikbud  Daoed Yoesoef saat akan dikebumikan. - Image

Mantan Mendikbud Daoed Yoesoef saat akan dikebumikan.


Kendati pernah menjabat menteri pada era Orde Baru, Daoed pernah pula menolak jabatan di kabinet sebagai gubernur Bank Indonesia. Di sisi lain, ISIS, lembaga yang pernah dipimpin mantan anggota DPA dan MPR itu, dikenal sebagai think thank berpengaruh pada era pemerintahan Presiden Soeharto.


Sri Edi Swasono, salah seorang mantan mahasiswanya di Universitas Indonesia, memuji Daoed sebagai sosok yang terbuka dan bersahabat. "Waktu saya selesai menempuh doktor di Amerika dan main ke Prancis, Pak Daoed ini malah senang saya dapat doktor dulu, sedangkan dia belum," ungkapnya.


Hubungan baik itu terus berlanjut. Hampir setiap tahun Edi datang menyambangi gurunya tersebut. "Semalam (Selasa malam) saat di rumah sakit, saya sudah merasa. Sekitar pukul 21.00, dokter sudah angkat tangan," katanya.


Menurut cerita Bambang, 1,5 jam sebelum meninggal, sang cicit sempat membisikkan bahwa keluarga sudah ikhlas. Tak lama berselang, doktor lulusan Universite de Paris I, Sorbonne, Prancis, tersebut berpulang.


Kemarin rumah duka di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, penuh dihadiri petakziah. Karangan bunga memenuhi gang rumah Daoed di Jalan Bangka VII Dalam Nomor 14 itu.


Di antara salah satu rombongan petakziah, tampak Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswe­dan. Keduanya datang setelah mengantar Presiden Joko Widodo terbang ke Sri Lanka untuk menyerahkan bantuan bagi pengungsi Rohingnya.


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat dihubungi Jawa Pos juga mengucapkan belasungkawa. "Saya kenal Pak Daoed, walaupun tidak kenal dekat. Saat beliau masih menjabat menteri, saya bersama beberapa ak­tivis pers mahasiswa menjadi anggota redaksi koran Warta Mahasiswa terbitan Depdiknas," ujarnya.


Daoed pun ketika itu turun gunung langsung dalam beberapa kali kesempatan. Memberikan pengarahan saat rapat redaksi. "Pandangannya luas, pikirannya mendasar, visinya kuat. Beliau juga tidak enggan makan nasi bungkus bersama sebelum rapat redaksi dimulai," ungkap Muhadjir.


Walaupun selama menjabat menteri Muhajir belum pernah bertemu Daoed, hubungan mereka tidak putus. "Beliau sering memberi saran melalui orang dekat beliau. Beliau telah memberi andil besar terhadap arah perjalanan pendidikan Indonesia," katanya.


Sebelum meninggal, kenang Bambang, Daoed juga sempat bilang bahwa bakal ada NKK jilid kedua. Namun, sayang, Bambang belum mengerti betul yang dimaksud ayah mertuanya itu. "Mungkin ada di perpustakaannya," tuturnya.


Daoed pun sempat berucap kritik untuk Indonesia. "Beliau sebenarnya ingin pembangunan itu berbasis kebudayaan, nge­wongke. Kalau mau membangun itu ditanya, perlu atau tidak," ujarnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore