Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Maret 2022 | 23.36 WIB

Yura Yunita Bertutur Rasa dalam Tutur Batin, Merayakan Diri Seutuhnya

Yura Yunita (Yura Yunita) - Image

Yura Yunita (Yura Yunita)

Yura Yunita pernah mengalami fase-fase tersulit dalam hidup. Kemarahan, tidak percaya diri, keresahan, ketidaknyamanan, kekecewaan, dan penolakan karena dinilai tidak cantik rupanya pernah menjadi luka batin bagi solois berdarah Sunda tersebut. Sekian lama merahasiakan itu, Yura akhirnya merengkuh ketidaksempurnaan dan segala perasaannya.

---

Berbagai perasaan dan fase hidup dituangkan Yura dalam album terbarunya, Tutur Batin, yang dirilis Oktober lalu. Mulai dari perasaan denial yang dicurahkan di Sudut Memori. Kemarahan dituangkan dalam Mau ke Mana. Perasaan protes pada Tutur Batin. Momen berandai-andai tentang keputusan yang diambil di masa lalu ada dalam Andai Saja. Kemudian, fase penerimaan diceritakan dalam Tenang.

Jawa Pos berkesempatan ngobrol dengan penyanyi bernama lengkap Yunita Rachman itu tentang perjalanannya menerima diri setelah tampil di festival musik Joyland di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/3) lalu.

Apa yang ingin Yura sampaikan dari hati lewat album dan lagu Tutur Batin?

Kadang dalam hidup kita selalu ngerasa kurang, nggak cukup, atau nggak sempurna dalam segala hal. Mau sejauh apa pun mencari kesempurnaan sampai ke ujung dunia, nggak akan ada habisnya. Aku belajar menerima hal-hal itu dan akhirnya bisa belajar untuk menerima diri seutuhnya, lalu merayakannya.

Sejak kapan Yura memendam perasaan-perasaan itu?

Insecure itu kayaknya dari aku SMP. Mulai ada yang namanya ketidakseimbangan hormon. Awalnya aku ngerasa mungkin memang fasenya anak SMP aja kali ya, tapi ternyata berlanjut sampai kuliah. Apalagi, pandemi bikin tambah down. Aku baru menyadari itu semua tahun 2020.

Ada kejadian yang pernah membuat Yura menjadi insecure dengan diri sendiri?

Pas awal masuk industri musik, usia 15 tahun, tubuhku dibilang kurang tinggi sama sebuah naungan besar. Jadi kurang sempurna kalau tampil di panggung. Padahal, kata mereka, suara dan permainan pianoku bagus. Mereka ingin suaraku tetap dipakai, tapi wajahnya diganti sama yang lain. Katanya mereka cari perempuan yang tingginya 165 sentimeter dan wajahnya lebih bule untuk lipsingin suara aku.

Lalu, bagaimana Yura merespons permintaan itu?

Setelah terpukul karena merasa perempuan cuma dinilai dari kecantikan, aku memberanikan diri keluar dari naungan itu. Ini bukan seperti ini yang aku mau. Aku ingin membuat jalanku sendiri dan nggak pengin ada di belakang layar.

Apa yang membuat Yura mampu mengambil langkah tersebut?

Mamaku dan banyak perempuan lain di sekitar aku yang nguatin aku untuk berani speak up. Mungkin fisik aku nggak sesuai beauty standard masyarakat, tapi aku coba berani bikin langkahku sendiri sampai akhirnya ada di titik sekarang dan punya label musik sendiri.

Peristiwa apa yang menyadarkan bahwa Yura punya masalah dengan trauma masa lalu itu?

Pas proses healing di Amrtasiddhi di Ubud, Bali, aku sadar bahwa ada trauma-trauma masa lalu aku yang belum selesai. Dari situ aku belajar untuk berdamai dengan diri sendiri, dengan Yura kecil, dan insecurities yang aku punya. Perasaan-perasaan nggak enak dalam diri itu ternyata harus diakui, karena selama ini aku selalu denial dan merasa semua baik-baik aja.

Sekarang Yura sudah menuangkan perasaan tidak sempurna lewat karya. Apa Yura merasa puas dan lega?

Oh iya jelas, jadi terasa lebih ringan. Makanya, album Tutur Batin cover-nya wajahku yang bareface. Ada jerawat, bekas luka, tanpa filter. Itu kali pertama aku mau dan berani menunjukkan kulit aku yang apa adanya meski udah photoshoot segala macam untuk nyiapin cover album.

Apakah perasaan-perasaan ketidaknyamanan itu masih sering muncul sampai sekarang?

Oh iya. Untuk belajar menerima diri sendiri itu prosesnya tidak mudah dan seumur hidup. Masih terus berjalan sampai sekarang.

Lalu, bagaimana cara Yura mengalihkan insecurity itu agar tidak tenggelam lagi?

Merenung, journaling, belajar cerita sama orang lain, dan meditasi. Aku tulis dan uraikan perasaan itu satu-satu, misal momen insecure yang lagi dialami itu apa yang aku rasakan.

Apakah pengalaman pahit itu yang menjadi motivasi Yura terus bersuara mengenai pemberdayaan perempuan?

Iya, betul, karena ternyata saat aku lagi down, dikuatkannya sama perempuan lain. Ternyata banyak juga yang ngerasain hal yang sama. Jadi, sama-sama menguatkan lah.

Photo

Yura Yunita (Yura Yunita)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore