Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Desember 2021 | 05.32 WIB

Airlangga Hartarto Paparkan Sederet Tantangan Indonesia di 2022

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto  saat menjawab pertanyaan wartawan usai pembahasan tingkat II RUU Cipta Kerja pada Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Dalam rapat paripurna tersebut Rancangan Undang-Undang Cipt - Image

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjawab pertanyaan wartawan usai pembahasan tingkat II RUU Cipta Kerja pada Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Dalam rapat paripurna tersebut Rancangan Undang-Undang Cipt

JawaPos.com - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sederet tantangan ekonomi global tahun depan yang akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Tantangan tersebut mulai dari gejolak ekonomi di negara maju hingga perubahan iklim.

Airlangga menyebut, tantangan tersebut mulai dari krisis energi, gangguan rantai pasokan akibat pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini, efek dari krisis properti di Tiongkok, hingga kebijakan moneter Bank Sentral AS The Fed.

"Krisis properti di China evergrande yang USD 300 billion dan ini efeknya akan terasa di 2022. Kemudian, kita ketahui bahwa tingkat suku bunga di Amerika itu lebih rendah dari inflasi, kita juga melihat ada potensi tapering of dari The Fed," kata Airlangga secara virtual, Kamis (30/12).

Meski demikian, Airlangga optimis ekonomi Indonesia kuat menghadapi tantangan tersebut karena pengalaman RI mampu bertahan melewati hantaman pandemi selama 2 tahun terakhir. Apalagi setelah Indonesia mampu menangani Covid-19 varian Delta pada pertengahan tahun ini.

"Penanganan Covid-19 yang di bulan Juli sudah mencapai 56.000 Namun kita sudah melihat dalamnya penurunannya sudah lebih dari 90 persen, bahkan secara rata-rata jika sudah konsisten sekitar lebih dari 4 bulan kasusnya di bawah 300," tuturnya.

Di sisi lain, Airlangga juga mengapresiasi kinerja positif Bursa Efek Indonesia (BEI), salah satunya pasar saham Indonesia yang tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu tembus rekor terbaru.

"Ini bursa mencapai rekor 6.723. Tepuk tangan berikutnya, return BEI secara year-to-date 10 persen," ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan jumlah investor ritel yang menjadi 7,38 juta telah berhasil dikuasai oleh investor dalam negeri. Harapannya, dengan ditetapkannya pajak penghasilan (PPh) Badan 22 persen dan PPh bagi perusahaan terbuka adalah 19 persen, dapat menarik minat banyak perusahaan untuk melantai di bursa.

"Jadi bahasanya, kalau jumlah yang IPO kurang banyak, berarti yang kebangetan dirut bursanya," pungkasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore