
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjawab pertanyaan wartawan usai pembahasan tingkat II RUU Cipta Kerja pada Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Dalam rapat paripurna tersebut Rancangan Undang-Undang Cipt
JawaPos.com - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sederet tantangan ekonomi global tahun depan yang akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Tantangan tersebut mulai dari gejolak ekonomi di negara maju hingga perubahan iklim.
Airlangga menyebut, tantangan tersebut mulai dari krisis energi, gangguan rantai pasokan akibat pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini, efek dari krisis properti di Tiongkok, hingga kebijakan moneter Bank Sentral AS The Fed.
"Krisis properti di China evergrande yang USD 300 billion dan ini efeknya akan terasa di 2022. Kemudian, kita ketahui bahwa tingkat suku bunga di Amerika itu lebih rendah dari inflasi, kita juga melihat ada potensi tapering of dari The Fed," kata Airlangga secara virtual, Kamis (30/12).
Meski demikian, Airlangga optimis ekonomi Indonesia kuat menghadapi tantangan tersebut karena pengalaman RI mampu bertahan melewati hantaman pandemi selama 2 tahun terakhir. Apalagi setelah Indonesia mampu menangani Covid-19 varian Delta pada pertengahan tahun ini.
"Penanganan Covid-19 yang di bulan Juli sudah mencapai 56.000 Namun kita sudah melihat dalamnya penurunannya sudah lebih dari 90 persen, bahkan secara rata-rata jika sudah konsisten sekitar lebih dari 4 bulan kasusnya di bawah 300," tuturnya.
Di sisi lain, Airlangga juga mengapresiasi kinerja positif Bursa Efek Indonesia (BEI), salah satunya pasar saham Indonesia yang tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu tembus rekor terbaru.
"Ini bursa mencapai rekor 6.723. Tepuk tangan berikutnya, return BEI secara year-to-date 10 persen," ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah investor ritel yang menjadi 7,38 juta telah berhasil dikuasai oleh investor dalam negeri. Harapannya, dengan ditetapkannya pajak penghasilan (PPh) Badan 22 persen dan PPh bagi perusahaan terbuka adalah 19 persen, dapat menarik minat banyak perusahaan untuk melantai di bursa.
"Jadi bahasanya, kalau jumlah yang IPO kurang banyak, berarti yang kebangetan dirut bursanya," pungkasnya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
