Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Maret 2022 | 17.57 WIB

Kominfo Minta Infrastruktur Telekomunikasi Tidak Dijadikan Objek PAD

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini dalam peringatan HUT ke 25 XL Axiata. (Istimewa) - Image

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini dalam peringatan HUT ke 25 XL Axiata. (Istimewa)

JawaPos.com - Kemenkominfo mengklaim tarif internet di RI sudah murah dibanding negara lain. Indonesia berada di peringkat ke-12 termurah dari 230 negara.

Plt Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo Ismail mengatakan, saat ini tarif internet di Indonesia relatif murah dibandingkan negara lain. Bahkan tarif mobile internet Indonesia berada di peringkat ke-12 termurah dari 230 negara.

Harga mobile broadband lebih murah karena banyak operator berkompetisi di kota-kota besar. Alternatif pilihan masyarakat untuk memilih operator selular juga banyak dengan berbagai gimik yang diberikan.

"Tarif rata-rata Rp 6.000 per gigabyte. Memang sebagian kecil masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan tarif dan mengutamakan kualitas internet yang baik. Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih sensitif terhadap harga layanan internet," ujar Ismail dalam keterangannya kepada JawaPos.com, Jumat (18/3).

Pernyataan itu juga dikemukakan Ismail di sela-sela webinar, Kamis (17/3). Webinar itu bertajuk "Apakah Tarif Internet Menjadi Hambatan Utama Terwujudnya Indonesia Terkoneksi".

Ismail yang juga dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo itu menyebut tarif layanan fixed broadband di Indonesia masih terkesan premium dengan harga Rp 280 ribu per bulan. Tarif itu tergantung kecepatan yang dibutuhkan oleh pelanggan. Padahal, penggunaan internet itu untuk satu keluarga.

Untuk itu, agar layanan internet di Indonesia semakin terjangkau demi mendukung program transformasi digital nasional, Ismail berharap beban biaya operator telekomunikasi dapat dikurangi. Sebab, saat ini beban biaya yang ditangggung operator telekomunikasi sangat besar. Contohnya ketika operator menggelar infrastruktur berupa penggelaran kabel serat optik, perizinan, dan tarif retribusi atau sewa.

Di sisi lain, Ismail menyadari bahwa setiap daerah memiliki target pendapatan asli daerah (PAD). Akan tetapi, dia berharap pemerintah daerah (pemda) tidak mencari peningkatan PAD dari sektor pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Pasalnya, infrastruktur telekomunikasi merupakan modal utama pemda dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di suatu wilayah. Makin baik infrastruktur telekomunikasi di satu daerah, maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Kemenkominfo menginginkan kabel optik yang digelar di daerah dapat tertata dengan baik dan tidak semrawut. Dia menyakini kehadiran infrastruktur telekomunikasi berdampak baik pada maka industri. Seperti, pariwisata, transportasi, pendidikan, manufaktur akan tercipta. "Dari sektor itu pemda bisa mendapatkan dari pajak," terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore