
JUAL BELI: Suasana Pasar Cahaya Bumi Selamat di Martapura, Kalimantan Selatan, pada Desember lalu. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)
JawaPos.com - Aktivitas mengasah intan menjadi beragam pernik perhiasan masih berdenyut di perkampungan Dalam Pagar, Martapura Timur, Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel). Tidak jauh berbeda dengan Plered, masyarakat Dalam Pagar pun mendapatkan keahlian mereka secara turun-temurun. Para perajin kriya logam mulia itu belajar secara autodidak.
Itu pula yang terjadi pada Rifyan Zaki. Perajin perhiasan Martapura itu sudah menggeluti profesinya selama 30 tahun. Lelaki yang akrab dipanggil Ian tersebut dikenal sebagai perajin emban cincin dan gelang batu permata.
Dari ruang tamu rumahnya, Ian menafkahi keluarganya. Pundi-pundi rupiah dia hasilkan dari sana. ”Alatnya pakai kikir sama gagaran (gerinda, Red),” ujarnya saat ditemui Jawa Pos di kediamannya pada Desember lalu.
Sebagaimana sentra keramik di Plered, sentra kriya logam mulia dan perhiasan di Dalam Pagar juga punya akar sejarah yang kuat. Semuanya berawal dari aktivitas pendulangan intan di beberapa titik di Martapura pada era kolonial.
Dari pendulangan, biji intan mentah kemudian didistribusikan ke perajin. Oleh para perajin, intan mentah digosok dan dibentuk menjadi batu permata yang punya nilai jual tinggi.
Photo
MATI SURI: Imin mendulang intan di kawasan Pendulangan Intan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)
Ian mengatakan, penghasilannya sebagai perajin batu mulai cukup untuk hidup sehari-hari. Saat ini, dia mematok tarif Rp 1 juta untuk pembuatan gelang emas batu permata. Sedangkan, untuk pembuatan gelang berbahan perak, biayanya Rp 750 ribu sampai Rp 800 ribu. Jasa pembuatan emban cincin bertarif Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk pembuatan gelang, Ian butuh waktu sekitar seminggu. Sementara, pembuatan emban cincin bisa selesai dalam waktu sekitar sehari. ”Semua bergantung konsumen. Kalau pesanan mereka sulit, ya prosesnya makin lama. Dan harganya makin mahal,” terang bapak tiga anak tersebut. Dalam kondisi normal, Ian bisa menggarap sampai 10 emban cincin dalam sebulan. Atau, 2–3 gelang.
M. Khairullah, salah seorang saudagar berlian, menyebut geliat di kampungnya tidak seramai dulu. Jumlahnya menurun drastis seiring dinamika sosial masyarakat. Anak-anak muda, kata dia, tidak banyak yang mau menjadi perajin batu mulia. Sekalipun, mereka lahir dari orang tua yang perajin. ”Apalagi semenjak Covid-19 ini. Tinggal sedikit yang bertahan,” ungkapnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
