
Wartawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis pekan ini. Selama perdagangan, IHSG terus bergerak di zona merah bahkan hi
JawaPos.com - Lembaga pemeringkat Moody's Investor Service dan Fitch Ratings memberikan rating Investment Grade yakni Baa3 dan BBB- untuk senior secured bond yang akan diterbitkan oleh Star Energy Geothermal Drajat II Limited dan Star Energy Geothermal Salak, Ltd.
Prospek kedua rating untuk obligasi berwawasan lingkungan atau green bond yang dijalankan oleh dua entitas usaha Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT), berada di posisi stabil.
Rating investment grade ini menggambarkan kualitas dari surat hutang yang dianggap baik dan minim resiko, yang dikeluarkan oleh perusahaan yang reliable. Green bond global senilai USD 1,11 miliar tersebut rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat.
Green bond atau surat hutang “hijau” adalah salah satu tipe instrumen investasi surat hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memiliki jejak karbon rendah (low carbon footprint).
Berdasarkan informasi yang ditulis oleh Investopedia.com, green bond pertama kali dikeluarkan oleh World Bank pada tahun 2009, dan sampai 2019, telah terdapat USD 157 milyar green bond yang dikeluarkan oleh berbagai entitas di seluruh dunia.
Star Energy akan menggunakan dana obligasi global untuk melunasi sejumlah utang. Sebagian juga dananya akan dialokasikan untuk belanja modal, modal kerja, dan kebutuhan lain yang terkait dengan operasional geothermal.
Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada memandang, pemberian rating dari Moody's dan Fitch merupakan berita positif bagi Star Energy, khususnya bagi BRPT yang merupakan induk usaha dari Start Energy.
"Karena pemberian rating ini di posisi stabil, mereka melihat adanya kecukupan arus kas yang dimiliki BRPT. Jadi akan memberikan dampak yang bagus pada penerbitan obligasi dari Star Energy," ujarya dalam keterangannya, Jumat (2/10).
Reza menuturkan, pelaku pasar juga akan menyambut positif penerbitan obligasi tersebut. Hal itu terlihat dari alokasi dana yang akan digunakan oleh entitas BRPT tersebut. "Sudah terlihat dana alokasinya mau digunakan apa saja, makan akan terlihat dampaknya ke Star Energy, yang nantinya akan mempengaruhi kinerja BRPT, karena BRPT merupakan induk usaha," tuturnya.
Dia menegaskan, secara garis besar pemberian obligasi ini akan menunjang operasional Star Energy dalam membangun energi terbarukan di Indonesia. "Apalagi dapat eksklusif gitu obligasinya, Jadi selling point atau nilai jual, bagi pelaku pasar dan teman-teman analis," imbuhnya.
Saat ini, Star Energy memiliki kapasitas produksi listrik sebesar 875MW yang terdiri dari kapasitas sebesar 227 MW dari PLTP Wayang Windu, kemudian 377 MW di Salak, dan sebesar 271 MW di Darajat.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
