Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Agustus 2025 | 18.30 WIB

Jadi Korban Deepfake Guru Beban Negara, Faktanya Sri Mulyani Bilang Begini Saat Sambutan di Acara ITB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti Rapat Kerja bersama Banggar DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi korban deepfake soal guru beban negara. Untuk diketahui, deepfake adalah teknologi AI yang digunakan untuk membuat gambar, video, dan rekaman audio palsu.

Dalam video deepfake yang beredar di media sosial, Sri Mulyani tampak hanya berbicara pendek dengan menyampaikan 'Guru itu beban negara'. Selanjutnya, para content creator di media sosial banyak yang menambah dengan konten-konten perjuangan siswa dan guru yang berjuang keras untuk memperoleh pendidikan.

Bahkan, dalam salah satu akun Instagram @palembangterkini.official, video deepfake Sri Mulyani digabungkan dengan sambutan asli yang disampaikan dalam acara konvensi tersebut. Padahal, secara keaslian itu sangat bertentangan.

Padahal, video pendek yang dijadikan sebagai bahan deepfake adalah momen Sri Mulyani saat menyampaikan sambutannya di acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB), pada Kamis (7/8).

Pada faktanya, dalam sambutan di acara ITB itu, Sri Mulyani tidak pernah berbicara dan menyebut 'Guru itu beban negara'. Berdasarkan pantauan JawaPos.com pada menit ke 57:37 dalam kanal Youtube ITB, Sri Mulyani hanya menyampaikan soal banyaknya anggapan di media sosial bahwa menjadi dosen dan guru tidak dihargai karena gajinya kecil. Menurutnya, anggapan ini pula yang menjadikan tantangan tersendiri bagi keuangan negara.

"Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara," kata Sri Mulyani.

Hal itu pula yang memantik pertanyaan dasar bagi dirinya, apakah seluruh kesejahteraan dosen dan guru di tanah air harus berasal dari keuangan negara, atau justru bisa turut melibatkan partisipasi masyarakat.

"Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat," imbuhnya.

Bahkan, saat Sri Mulyani berbicara pun, ia turut memperlihatkan alokasi anggaran pendidikan tahun 2025 yang mencapai Rp 724,3 triliun. Lebih lanjut, dia membeberkan bahwa alokasi anggaran ini dipakai untuk memperkuat ekosistem dari seluruh pendidikan. Mulai dari madrasah, pendidikan sekolah negeri, swasta.

Bahkan, ketika berbicara tentang guru, dana APBN khusus pendidikan ini juga digunakan untuk memperluat kepada guru-guru mulai dari honorer sampai dengan profesor.

"Atau orang-orang pintar yang ada di ruangan seperti ini, peneliti dan perguruan tinggi yang juga begitu sangat diverse," beber Sri Mulyani.

Mengutip dari bahan paparannya, alokasi anggaran pendidikan tahun 2025 telah diperuntukkan bagi Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah bagi 1,1 juta mahasiswa. Lalu, Program Indonesia Pintar (PIP) untuk 20,4 juta siswa, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi 9,1 juta siswa, Bantuan Operasional PTN (BOPTN) bagi 197 lembaga.

Kemudian, diperuntukkan bagi beasiswa LPDP sekitar 36 ribu on going beasiswa degree, Digitalisasi Pembelajaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) Non PNS sebanyak 477,7 ribu guru, Sertifikasi Guru 666,9 ribu guru, renovasi sekolah 22 ribu pembangunan/rehabilitasi sekolah, Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Unggulan hingga Sekolah Rakyat.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore