
Ilustrasi
JawaPos.com - Malaysia tertarik berinvestasi di Kalimantan Utara (Kaltara). Setidaknya ada tiga sektor yang menjadi sasaran negeri jiran tersebut dalam menanamkan investasi. Yakni, perdagangan perbatasan atau perdangan lintas batas (border treade), pendidikan kejuruan, dan wisata kesehatan (medical tourism).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kaltara Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Dian M. Johan Johor Mulyadi menjelaskan, niat Malaysia tersebut telah dibahas dalam pertemuan antara negara (bilateral meeting) antara delegasi Indonesia dengan Economic Planning Unit Malaysia, di Jakarta belum lama ini.
“Mereka (Malaysia) ingin sekali masuk ke sini (Kaltara,Red.),” ungkapnya dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Sabtu (11/2).
Sebagai provinsi baru, menurutnya, Kaltara tidak ubahnya seperti seorang gadis yang dilirik banyak pihak. Sebab dalam kontek persaingan, investor asing akan lebih tertarik ke daerah yang belum banyak pesaing (kompetitor), sehingga peluang keuntungan cukup besar.
“Jadi kita (Kaltara, red) punya bargaining power, dan bargaining position. Jadi kita bisa menentukan mana investor yang benar-benar atau hanya abal-abal,” tegas pria telah mengunjungi 20 negera ini.
Tidak lanjut pertemuan bilateral tersebut, kata dia, rencananya pihak Malaysia bersama Tim Asian Developmen Bank (ADB) akan mengunjungi Kaltara. “Tanggal 18 nanti. Permohonannya sudah diteruskan ke gubernur, mudahan direstui,” bebernya.
Jika nantinya rencana tersebut berlanjut, maka Malaysia akan membuka askes jalan tembus dari Kalabakan, Tawau - Serudong - Sei Manggaris, Kabupaten Nunukan. “Kita sudah ada jalan tembus dari Sei Manggaris ke Malinau,” imbuh Johan.
Diakuinya, Malaysia sempat mengkhawatirkan dengan terbukannya jalan nanti, justru membuka akses mobilisasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, termasuk aspek keamanannya. “Kemarin saya yakinkan, itu cuma alasan yang dibuat-buat,” ujar dia.
Sebab tegasnya, keberadaan TKI ilegal pada dasarnya hanya mengikuti hukum, dimana ada permintaan maka ada penawaran. “Yang menyebabkan ada TKI ilegal itu ya perusahaan yang ada di Malaysia,” ujarnya.
Sedangkan aspek keamanan, pemerintah telah menempatkan sekira 1.500 pasukan di beberapa titik di pos sepanjang bentang perbatasan sekira 1.300 kilo meter tersebut. “Bahkan ini (pasukan, Red) di pos gabungan dengan Malaysia, jadi tidak ada alasan seperti itu,” tuntasnya. (isl/ana/fab/JPG)

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
