Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 April 2026 | 02.28 WIB

Bisa Cederai Organisasi, Kiai Rembang Ingatkan Muktamar NU Harus Dijauhkan dari Politik Praktis

Ilustrasi PBNU. - Image

Ilustrasi PBNU.

JawaPos.com — Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, Kabuaten Rembang, Jawa Tengah, Achmad Rosikh Roghibi meminta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) dijauhkan dari kepentingan politik praktis. Muktamar ini juga tidak boleh dicampuradukan dengan urusan ekonomi yang menguntungkan kelompok tertentu.

Gus Rosikh mengatakan, muktamar merupakan ruang sakral bagi NU. Oleh karena itu, berbagai macam keputusan yang dibuat harus berorientasi kepada kepentingan masyarakat luas.

“NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya,” ujarnya, Selasa (28/4).

Dia menuturkan, kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) harus dikembalikan kepada dzuriyah muasis, yakni keturunan para pendiri NU. Pemimpin seperti ini dinilai memiliki kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.

Menurutnya, dzuriyah muassis tidak hanya membawa legitimasi genealogis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan perjuangan para ulama pendiri NU agar tetap berada di jalur yang benar.

“Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,” imbuhnya.

Adanya kepentingan politik praktis di dalam NU bisa merusak keberlanjutan organisasi. Kepercayaan publik kepada NU pun bisa berkurang.

“NU ini didirikan oleh para ulama dengan niat ibadah, bukan untuk kepentingan politik sesaat atau mencari ‘cuan’. Kalau Muktamar sudah dicampuri kepentingan seperti itu, maka ruh keulamaannya akan luntur,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya mengembalikan marwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai representasi dari dunia pesantren. PBNU, lanjutnya, harus kembali berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan yang menjunjung tinggi akhlak, keilmuan, serta kemandirian ulama.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore