
Antrean orang tua siswa saat mendaftarkan anaknya sekolah di Batam.
JawaPos.com - Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 17/2017 yang mengatur bagi sekolah wajib menyediakan kuota siswa baru 90 persen berasal dari sekitar lokasi. Akan tetapi ketentuan itu tidak dipenuhi oleh sekolah di Batam.
Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Negeri 25 Batam, Hasnul Amri mengatakan, kuota penerimaan siswa di sekolah tersebut sebanyak 252 orang. Ke-252 siswa itu dibagi menjadi tujuh rombongan belanjar (rombel) atau kelas.
"Nomor antrean sudah sampai 789. Sedangkan kuota siswa yang diterima 252 anak, dibagi ke dalam tujuh rombel," ujar Hasnul yang dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group), Rabu (5/7).
Menurutnya, jumlah kuota 252 anak sudah termasuk 20 persen bina lingkungan, sedangkan 80 persen dinilai menurut ranking. "Kouta itu diberikan Dinas Pendidikan. Kita hanya melaksanakan dan mendata formulir siswa yang mendaftar untuk dimasukan ke dalam server online," jelas Hasnul.
Di sisi lain, Hasnul masih bingung soal penerapaan zonasi sesuai Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017. Dalam permen itu 90 persen anak diterima di sekolah sesuai dengan zona sekolah.
Sementara, teknis dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam hanya memberi kuota 20 persen untuk kuota bina lingkungan. "Kami panitia sebenarnya masih rancu dengan aturan itu. Namun, kita mengikuti teknis yang telah ditetapkan Dinas Pendidikan, yakni hanya 20 persen untuk bina lingkungan," terangnya.
Kebijakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam itu dikritisi oleh anggota Komisi IV DPRD Batam, Riky Indrakari. Dia meminta Permendikbud tersebut harus dijalankan.
"Zonasi ini wajib dilaksanakan. Aturannya sudah ada dan sekolah harus memenuhi peraturan ini dengan menerima anak yang tinggal dekat sekolah," kata Riky Indrakari.
Menurut Riky, dia sudah meminta data dari beberapa kelurahan untuk memastikan berapa anak yang sudah mendaftar. Apalagi, dia menilai tak ada jaminan keabsahan data dari bina lingkungan. Sebab, untuk meminta data keterangan dari RT dan RW zaman sekarang sangat mudah.
"Hanya untuk masuk sekolah ada yang memalsukan tempat tinggalnya agar bisa masuk dalam kategori bina lingkungan. Ini yang harus kita antisipasi," jelasnya.
Selain itu, kata Riki, pemerintah tidak bisa membiarkan anak usia sekolah tidak bersekolah. Apalagi, setiap anak wajib mendapat pendidikan minimal 9 tahun. "Anak usia sekolah wajib disekolahkan, kalau tidak negara dianggap melanggar," sebutnya. (she/eja/iil/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
