John Nosta, pakar inovasi AI, menilai dominasi kecerdasan buatan berpotensi melemahkan proses berpikir manusia (Business Insider)
JawaPos.com - Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor ekonomi global, muncul peringatan bahwa teknologi ini tidak otomatis memperkuat kecerdasan manusia.
Sebaliknya, AI dinilai berpotensi mendorong kemunduran pola berpikir kritis dan bernalar jika digunakan tanpa kesadaran terhadap batas-batas kognitifnya.
Peringatan tersebut disampaikan John Nosta, pakar inovasi AI dan pendiri NostaLab, lembaga pemikir yang menyoroti dampak strategis teknologi terhadap manusia dan organisasi. Menurut Nosta, cara kerja model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang kini banyak digunakan justru berlawanan dengan proses berpikir manusia.
Dilansir dari Business Insider, Senin (12/1/2026), Nosta menegaskan bahwa AI tidak berpikir sebagaimana manusia berpikir. "Kesimpulan saya adalah kecerdasan buatan bertentangan dengan kognisi manusia," kata Nosta.
Dia bahkan menyebut AI sebagai "anti-intelligence", karena cara kerjanya berlawanan dengan bagaimana manusia bernalar, belajar, dan membangun pemahaman.
Nosta menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui konteks ruang, waktu, memori, budaya, dan pengalaman hidup. Sementara AI tidak memiliki kerangka tersebut.
"Bagi AI, sebuah apel tidak hadir sebagai apel," ujarnya. "Dalam pengetahuan AI, apel hadir sebagai sebuah vektor di ruang hiperdimensional." Artinya, AI hanya memproses representasi matematis dan pola statistik, bukan makna.
Perbedaan mendasar ini, menurut Nosta, berdampak langsung pada kualitas keluaran AI. Sistem tersebut tidak menalar menuju sebuah jawaban, melainkan menghasilkan respons yang paling selaras secara statistik. Karena itu, keluaran AI dioptimalkan untuk kefasihan dan koherensi bahasa, bukan untuk pemahaman substantif.
Tak hanya itu, Nosta menilai AI telah membalik urutan berpikir manusia. Proses kognitif manusia biasanya bergerak dari kebingungan, eksplorasi, pembentukan struktur, hingga keyakinan. AI justru memulai dari struktur dan rasa tuntas.
"Dengan AI, kita memulai dari koherensi, kefasihan, dan rasa kelengkapan, lalu setelah itu baru muncul keyakinan," katanya.
Pembalikan ini menciptakan ilusi otoritas. Jawaban AI yang terdengar rapi dan meyakinkan sering kali diterima begitu saja. "Mendapatkan jawaban lebih dulu adalah pembalikan proses kognitif manusia," ujar Nosta. "Itu bertentangan dengan cara berpikir manusia." Dalam konteks kerja, kecepatan dan kelancaran pun kerap disalahartikan sebagai pemahaman.
Dia juga mengingatkan bahwa nilai berpikir manusia justru lahir dari proses yang tidak mulus. Manusia berkembang melalui proses mencoba, keliru, dan menguji kembali asumsi.
"Yang penting itu justru tersandung, kekasaran, dan gesekan, karena di situlah observasi dan hipotesis berkembang," kata Nosta. Jika AI digunakan sebagai jalan pintas dan bukan mitra berpikir, kemampuan bernalar manusia dapat melemah secara perlahan.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Mehdi Paryavi, CEO International Data Center Authority, lembaga yang memberi nasihat kepada pemerintah dan perusahaan terkait infrastruktur AI.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
