
Muslimin menjajakan alas plastik di pelataran Masjid Agung Sidoarjo saat shalat Idulfitri 1447 Hijriah. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com — Gema takbir menggema sejak pagi di pelataran Masjid Agung Sidoarjo, menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dengan penuh khidmat. Ribuan jemaah memadati area masjid hingga meluber ke jalanan, menciptakan lautan manusia yang datang membawa kebahagiaan setelah sebulan berpuasa.
Di tengah suasana sakral itu, ada cerita lain yang tak kalah menarik dari sudut pelataran. Hamparan plastik sederhana menjadi bagian penting bagi jemaah, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi sosok seperti Muslimin.
Pria kelahiran 1969 itu tampak sigap melayani pembeli yang membutuhkan alas untuk shalat. Dengan wajah ramah dan logat Jawa yang kental, ia menawarkan plastik seharga lima ribu rupiah per lembar kepada jmaah yang tak kebagian tempat di dalam masjid.
“Iya, sudah lama. Sudah ada sekitar 20 tahun,” ujar Muslimin kepada JawaPos.com (21/3/2026). Ucapan sederhana itu menyimpan perjalanan panjang yang tak semua orang tahu.
Selama dua dekade terakhir, Muslimin telah menjadi bagian dari denyut kehidupan setiap hari raya di Jawa Timur. Ia bukan sekadar pedagang, tetapi juga saksi hidup bagaimana tradisi shalat Id berkembang dengan jumlah jemaah yang terus meningkat setiap tahun.
“Iya, saya kulakan (lalu saja jual 5 ribu per lembar). Mengambil dari teman-teman.” Dari situ, ia memutar roda ekonomi kecil yang ternyata cukup membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Meski terlihat sederhana, usaha ini membutuhkan kejelian membaca momen. Hari raya seperti Idulfitri menjadi waktu paling sibuk, di mana permintaan alas shalat melonjak drastis dalam waktu singkat.
Muslimin memahami betul peluang tersebut. Ia rela datang lebih awal dan menyiapkan dagangan sebelum jemaah mulai berdatangan, memastikan tidak kehilangan kesempatan di momen yang hanya datang dua kali dalam setahun.
Tak hanya saat Idulfitri, ia juga aktif berjualan di berbagai kegiatan keagamaan lainnya. “Selain hari raya, juga saat ada kegiatan pengajian, seperti acara Haul,” tuturnya.
Mobilitasnya pun cukup tinggi demi mengejar rezeki. Ia bahkan kerap berkeliling hingga ke Surabaya untuk mengikuti agenda keagamaan yang ramai jemaah.
“Keliling juga sampai Surabaya, di tempat Kyai Asrori.” Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk ikhtiar yang ia jalani dengan penuh kesabaran.
Menariknya, meski sering berpindah tempat, akar kehidupannya tetap di Sidoarjo. Ia berasal dari Tanggulangin, meski kini tinggal di Kedung Peluk.
“Saya asli sini (Sidoarjo), Tanggulangin. Tapi sekarang tinggal di Kedungpeluk.” Identitas lokal itu membuatnya semakin memahami karakter jemaah dan kebutuhan di setiap momen besar.
