
Petugas membawa jenazah korban runtuhnya bangunan mushalla di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (6/10/2025). (Angger Bondan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Mulai muncul desakan agar kepolisian segera mengusut dan menetapkan tersangka kasus rubuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo yang merenggut lebih dari 50 korban jiwa.
Salah satunya dari keluarga korban, Fauzi, warga Bangkalan, Madura. Ia bercerita bahwa satu anak dan empat ponakannya menjadi korban dalam tragedi mengerikan itu. Anaknya berhasil selamat, namun tidak dengan ponakannya.
"Anak saya sendiri, alhamdulillah selamat, karena di shaf depan pada waktu kejadian. Nah (empat keponakan saya) sampai saat ini belum tahu bagaimana. Keluarga sangat terpukul, kami merasa kehilangan," ujarnya, Kamis (9/10).
Keempat ponakan Fauzi adalah Muhammad Ubaidillah, Muhammad Haikal Ridwan, M. Muzakki Yusuf, dan Muhammad Azam Albi Alfa Himam. Mereka merupakan santri Pondok Pesantren Al Khoziny.
Fauzi menyayangkan sikap tertutup pihak Pondok Pesantren Al Khoziny. Ia mengaku belum menerima penjelasan resmi maupun bentuk tanggung jawab dari pengurus pondok sejak tragedi memilukan itu terjadi.
"Saya tekankan kalau memang ada pelanggaran hukum di situ, ada kelalaian manusia. Ya harus diproses, siapapun itu. Tidak memandang itu status sosial siapa. Hukum harus ditegakkan," tegas Fauzi.
Meski begitu, pihaknya mengaku belum mengambil langkah hukum mandiri, namun ia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya aparat penegak hukum untuk menyelidiki kejadian tersebut.
"Iya dong, jelas (mendukung proses penyelidikan dipercepat). Proses itu sambil berjalan, kan seperti itu, tidak mengganggu identifikasi proses penelusuran hukum itu. Kami mendorong lebih cepat," pungkasnya.
Keluarga Kenang Haikal
Fauzi, warga Bangkalan, Madura ini masih tak percaya kehilangan tiga ponakannya sekaligus dalam tragedi ambruknya bangunan empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo, Senin (29/9) lalu.
Keempat ponakannya adalah Muhammad Ubaidillah, Muhammad Haikal Ridwan, M. Muzakki Yusuf, dan Muhammad Azam Albi Alfa Himam. Mereka merupakan santri Pondok Pesantren Al Khoziny.
Setelah operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (7/10), Fauzi bergeser ke posko pengungsian di Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya. Fauzi mengatakan keempat ponakannya sudah dipastikan meninggal dunia.
"Keluarga saat ini sangat terpukul sekali, kita sangat kehilangan anak-anak kami," tutur Fauzi yang tampak cemas menunggu proses identifikasi DVI di depan halaman kamar jenazah RS Bhayangkara, Kamis (9/10).
Dengan raut wajah sedih, Fauzi hanya bisa pasrah jika pada akhirnya, ia hanya bisa membawa jenazah para ponakannya ke kampung halaman di Bangkalan, Madura, untuk dikebumikan secara layak.
Dalam kesempatan yang sama, Fauzi mengenang salah satu ponalannya yang sangat dekat di hatinya, yakni Haikal. Ia mengingat jelas momen Haikal terakhir pulang ke rumah, sebelum tragedi mengerikan itu merenggut nyawanya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
