Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Februari 2025 | 04.26 WIB

Di Ruang Bedah Anatomi, Mahasiswa Kedokteran Ditampaki Manusia Berkaki Kuda hingga Jejak Mayat yang Masih Basah

ILUSTRASI AI. (DEAN/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI AI. (DEAN/JAWA POS)

JawaPos.com - Ketika melintasi ruang bedah anatomi, Almeera, bukan nama sebenarnya, dan empat temannya mencium semerbak bau bunga melati. Mereka mendengar suara ringkikan kuda. Saat dilihat, lima perempuan itu mendapati manusia bertubuh kuda dengan senyum menyeringai.

Gazebo kayu yang dikelilingi pepohonan nan rimbun menjadi tempat favorit bagi Almeera untuk rehat sejenak seusai kuliah. Mahasiswa kedokteran tersebut kerap menghabiskan waktu luang untuk sekadar menikmati keindahan arsitektur warisan kolonial di kampusnya.

Mayoritas bangunan di kampus Almeera merupakan gedung tua. Atapnya tinggi-tinggi guna menjaga sirkulasi udara. Ciri khas lain ada pada selasar teras yang memanjang. Namun, keelokannya berubah menyeramkan ketika hari sudah berganti malam. "Banyak yang mengingatkan agar tidak beraktivitas di dalam kampus lebih dari jam empat sore,” paparnya.

Anjuran itu menjadi semacam peringatan bagi mahasiswa akan adanya makhluk lain di tempat tersebut. Mereka adalah penunggu bangunan Belanda itu. Almeera belum pernah mendapatkan gangguan. Sampai suatu saat, dia harus mengikuti rapat kepanitiaan untuk persiapan lomba di kampusnya hingga petang.

Pertemuan itu berlangsung selepas kuliah. Dimulai dari sore hingga larut malam. Saking asyiknya membahas topik perlombaan, dia tak sadar jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. "Pas sudah selesai rapat itu, anak-anak yang lain ada yang memilih menginap di ruang himpunan,” tuturnya.

Sementara itu, Almeera beserta empat temannya memilih untuk pulang. Sayangnya, dia lupa memindahkan kendaraannya ke area parkir depan. Mobilnya masih tertinggal di area parkir belakang selepas menjalani praktikum di ruang bedah anatomi.

Untuk menuju area parkir belakang, mereka tidak punya pilihan lain, harus berjalan melewati ruang bedah anatomi yang digunakan untuk menyimpan mayat atau kadaver. Bermodal lampu flash dari HP masing-masing, lima mahasiswa itu meniti lorong gelap.

Tepat saat melintasi ruang bedah anatomi, mereka mencium semerbak bau bunga melati. "Firasat kami sudah nggak enak waktu itu. Tapi karena itu satu-satunya jalan, jadi mau nggak mau kami harus lewat sana,” imbuh Almeera.

Lalu, mereka mendengar suara ringkikan kuda. Bunyinya lirih. Lantas, perlahan berubah menjadi melengking seakan-akan menusuk pendengaran.

Mata Almeera dan temannya seketika melihat ruang anatomi. Betapa terkejutnya lima perempuan tersebut mendapati manusia bertubuh kuda. Makhluk itu memiliki empat kaki dan sebuah ekor menjuntai pada bagian belakang tubuhnya. Wujudnya menyerupai centaur, makhluk mitologi Yunani. Lalu, dia menatap balik ke arah Almeera dan kawan-kawannya. "Ia menoleh terus senyum nyengir gitu. Kayak kuda senyumannya,” sambungnya.

Melihat Almeera dan empat temannya, manusia bertubuh kuda itu menyeringai. Dia menunjukkan gigi-gigi geraham besar disertai suara ringkikan. Sekejap, tubuh lima mahasiswa itu membatu. Mereka berupaya berteriak sekencang-kencangnya, tetapi suara seolah tercekat di tenggorokan.

Tubuh Almeera dan teman-temannya tiba-tiba lemas bersamaan dengan lenyapnya manusia berkaki kuda itu. "Kami buru-buru masuk ke mobil, pulang. Tidak pamitan sama teman-teman lain yang masih menunggu di depan,” terangnya.

Almeera berusaha melupakan kenangan horor itu dengan menyibukkan diri di kampus. Namun, beberapa hari berselang, pengalaman menyeramkan kembali menghampirinya saat menjalani praktikum anatomi. Agenda perkuliahan waktu itu berkaitan dengan penelitian kadaver atau mayat. "Kadaver ini biasanya disimpan kayak dalam boks cairan formalin. Terus baru dikeluarkan pas mau dipakai praktikum,” ujarnya.

Dia bersama sejumlah temannya mencoba berangkat lebih awal guna mempelajari materi praktikum sebelum perkuliahan dimulai. Begitu memasuki ruang bedah anatomi, Almeera dikejutkan jejak langkah manusia di lantai ruang anatomi. Kondisinya masih basah.

Karena penasaran, Almeera beserta teman-temannya lantas menelusuri jejak kaki tersebut. Setelah dirunut, jejak itu berakhir tepat di dalam boks cairan formalin. Di dalamnya terdapat sebuah mayat. "Kayak mayatnya baru saja habis jalan-jalan,” ucapnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore