
Ilustrasi mikroplastik. (Freepik)
JawaPos.com - Memasuki musim hujan 2025/2026, temuan kandungan mikroplastik dalam air hujan di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, kembali membuat masyarakat was-was.
Bagaimana tidak, selain menjadi alarm berbahaya pencemaran udara, mikroplastik juga berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Hal ini diamini oleh Dosen Teknologi Laboratorium Medis UMSurabaya, Vella Rohmayani.
"Mikroplastik ini partikel plastik berukuran 1-5 milimeter, bentuknya bisa serat, fragmen, hingga butiran kecil. Dan dia menyebar ke berbagai lapisan lingkungan, bukan hanya mencemari laut dan sungai," tuturnya, Selasa (18/11).
Ia menyebut ada dua jenis mikroplastik, yakni mikroplastik primer dari produk berkandungan microbead, sedangkan mikroplastik sekunder terbentuk akibat pelapukan berbagai jenis plastik melalui proses fisik, kimia, atau biologis.
"Karena ukurannya sangat kecil, penyebarannya semakin tak terhindarkan. Bahkan mikroplastik mudah masuk ke rantai makanan. Partikel ini telah ditemukan di laut, sungai, udara, bahkan di dalam tubuh organisme," imbuh Vella.
Ia menyebut salah satu media penyebaran mikroplastik adalah air hujan. Partikel mikroplastik di bumi terangkat ke atmosfer, kemudian turun kembali dalam bentuk buliran air hujan.
"Dan ingat, masalah mikroplastik ini bukan hanya persoalan lingkungan. Sebab air hujan yang terkontaminasi mikroplastik meningkatkan risiko paparan pada makanan dan minuman yang dikonsumsi kita," terangnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroplastik berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari peradangan jaringan, ketidakseimbangan hormon, masalah reproduksi, hingga komplikasi kehamilan.
"Karena itu saat di luar ruangan, baiknya gunakan masker filtrasi, payung, atau jas hujan untuk mengurangi kontak dengan air hujan. Pengemudi juga sebaiknya mengaktifkan mode sirkulasi kabin saat hujan," tukas Vella.
Sebagai informasi, hasil riset yang dilakukan Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Growgreen, River Warrior, dan Ecoton, menempatkan Surabaya di posisi ke-6 dengan kontaminasi 12 partikel per 90 cm² per 2 jam.
Penelitian tersebut dilakukan selama 11-14 November 2025 di 7 lokasi, yakni kawasan Darmawangsa, Ketintang, Gunung Anyar, Wonokromo, HR Muhammad, Tanjung Perak, dan Pakis Gelora.
Pada lima lokasi tersebut, peneliti menempatkan wadah aluminium, stainless Steel dan wadah mangkok kaca dengan diameter 20-30 cm diletakkan pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam.
Dari grafik hasil penelitian, wilayah di Surabaya yang paling tercemar adalah Pakis Gelora dengan 356 partikel mikroplastik per liter, disusul Tanjung Perak pada posisi kedua dengan 309 PM/ liter.
Kemudian HR Muhammad dengan 135 PM/ liter, Wonokromo dengan 77 PM/ liter, Gununganyar dengan 66 PM per liter, Ketintang dengan 48 PM/ liter, dan Dharmahusada dengan 24 PM per liter.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
