Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 21.14 WIB

Pemkot Surabaya Wajibkan Siswa SD-SMP Berbahasa Jawa Setiap Kamis, Bagaimana Nasib Siswa Non-Jawa?

Ilustrasi siswa-siswi di sekolah Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya) - Image

Ilustrasi siswa-siswi di sekolah Surabaya. (Humas Pemkot Surabaya)

JawaPos.com - Sosiolog Pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Prof. Tuti Budirahayu menyoroti kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, yang mewajibkan siswa TK, SD, SMP berbahasa Jawa Krama di sekolah setiap Kamis.

Dilihat dari urgensinya, Prof. Tuti menilai program "Kamis Mlipis" ini sangat relevan menjawab tantangan zaman, di mana bahasa daerah mulai redup eksistensinya di kalangan generasi muda.

“Agar generasi muda di Surabaya tidak kehilangan jati dirinya sebagai 'Arek Suroboyo', 'Wong Jowo'. Ini dapat melestarikan 'Bahasa Ibu' sekaligus memperkuat identitas sosial dan budaya generasi muda," ujarnya, Selasa (15/7).

Selain mengapresiasi, Prof. Tuti juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa program 'Kamis Mlipis berpotensi menimbulkan diskriminasi terhadap siswa non-Jawa yang bersekolah di Surabaya.

Sebagai kota metropolitan terbesar ke dua di Indonesia, Surabaya dikenal dengan masyarakatnya yang plural, terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, ras, hingga latar belakang budaya.

"Tidak semua siswa memiliki latar belakang budaya atau kemampuan berbahasa Jawa yang memadai, sehingga program ini mungkin bisa menyebabkan rasa terasing atau tekanan bagi mereka," imbuhnya.

Karena itu, Prof. Tuti mendorong pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk meninjau kembali sifat 'wajib' dalam penggunaan bahasa Jawa. Ia berharap program ini dapat adil bagi seluruh siswa.

“Karena jika siswa memang tidak bisa berbahasa Jawa dan hal itu berpengaruh terhadap penilaian rapor, maka sebaiknya bagi mereka yang tidak berbahasa Jawa sebagai bahasa Ibu, beri kelonggaran agar mereka tidak semakin membenci bahasa Jawa, karena berpengaruh terhadap nilai rapor,” seru Prof. Tuti.

Dispendik Surabaya memiliki peran krusial dalam merancang strategi pelaksanaan Kamis Mlipis secara bijak, sehingga program tersebut tak menimbulkan kesenjangan dan tetap menjaga semangat keberagaman di sekolah.

“Buatlah model pembelajaran yang menyenangkan (have fun), sehingga bagi siswa yang tidak mengenal bahasa Jawa, semakin tertarik dan ingin belajar bahasa Jawa karena menyenangkan,” tukas Prof. Tuti. (*)

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore