Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Februari 2025 | 23.52 WIB

Bukan Anti Nasionalisme, Pakar Sebut Tagar Kabur Aja Dulu Bentuk Cinta Tanah Air!

Ilustrasi ramai tagar #KaburAjaDulu sebagai bentuk kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah. (Dokumentasi Jawa Pos) - Image

Ilustrasi ramai tagar #KaburAjaDulu sebagai bentuk kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah. (Dokumentasi Jawa Pos)

JawaPos.comTagar Kabur Aja Dulu sedang ramai diperbincangkan warganet di media sosial. Tak hanya viral, tagar ini disinyalir sebagai bentuk kritik publik terhadap kondisi ekonomi, politik, dan sosial, di Indonesia.

Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Surabaya Radius Setiyawan menilai, tagar #KaburAjaDulu adalah ungkapan perasaan masyarakat terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepadanya. Salah satu isu yang memantik ramainya kampanye tagar #KaburAjadulu, adalah kebijakan efisiensi anggaran besar-besaran oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang berimbas pada sektor pendidikan.

”Kemunculan #KaburAjaDulu adalah bentuk tanggapan cepat atas persoalan yang terjadi. Hal itu adalah ekspresi kemarahan, kekecewaan, keputusasaan, dan protes anak-anak muda kepada pemerintah,” ujar Radius Setiyawan, Rabu (19/2).

Menurut Radius, anggapan bahwa masyarakat yang bekerja atau bersekolah di luar negeri tidak nasionalisme adalah keliru. Justru tagar #KaburAjaDulu adalah bagian dari rasa cinta generasi muda terhadap Indonesia.

”Menurut saya itu bagian dari kecintaan mereka terhadap Indonesia. Bukan persoalan nasionalisme, justru Gen Z mengungkapkan ekspresi kecewa (melalui #kaburAjaDulu) dan pemerintah harus melihat itu,” imbuh Radius Setiyawan.

Menurut Radius, anak muda seperti Gen Z  sangat sadar akan disparitas global, terutama yang berkaitan dengan kualitas hidup di berbagai negara. Sebab, semuanya bisa diketahui melalui media sosial.

”Disparitas global tersebut termasuk perbedaan jaminan kesehatan, kualitas pendidikan, kesempatan lapangan kerja, hingga kebebasan anak muda untuk berekspresi,” tandas Radius Setiyawan, pakar sosiologi tersebut.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Christina Aryani tidak mempermasalahkan tagar #KaburAjaDulu yang ramai di medsos. Setiap warga negara berhak mencari penghidupan yang lebih baik.

”Sah-sah saja WNI mencari penghidupan yang lebih baik. Dan tolong jangan dijadikan alasan untuk mencoba-coba berangkat secara ilegal dan berujung pada masalah,” kata Christina di Jakarta, Selasa (18/2).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore