JawaPos.com - Beberapa pekan terakhir, cuaca ekstrem curah hujan tinggi membuat sejumlah wilayah di Kota Surabaya dilanda banjir. Termasuk wilayah-wilayah sekitar sungai perbatasan, seperti Gunung Anyar.
Pada akhir tahun lalu, warga Gunung Anyar mengeluhkan banjir yang terjadi selama dua hari berturut-turut, 24-25 Desember 2024. Penyebabnya karena aliran di sungai perbatasan tersumbat eceng gondok dan sedimentasi.
Kondisi ini sempat membuat Pemkot Surabaya kesulitan. Sebab, sungai perbatasan bukan kewenangan mereka. Oleh karena itu, Pemkot mengadakan pertemuan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Kepala BBWS Brantas, Hendra Ahyadi Brantas membahas bagaimana penanganan banjir di wilayah sungai-sungai perbatasan.
"Surabaya itu hilir yang menerima luapan air dari beberapa daerah, hal ini sudah disampaikan BBWS ke pemerintah pusat sehingga nanti akan ada perbaikan sungai," ujar Eri Cahyadi di ruang wali kota, Kamis (2/1).
Ia pun tak menampik bahwa kondisi sungai di Kota Surabaya sedang tidak baik-baik saja. Terlebih saat turun hujan dengan intensitas tinggi dan bersamaan dengan daerah-daerah sekitar, seperti Jombang dan Mojokerto.
Ketika hujan turun bersamaan, aliran sungai (banjir kiriman) dari daerah lain, membuat Sungai Jagir Wonokromo tidak bisa menampung. Akibatnya, air meluap ke beberapa ruas jalan.
"Meskipun BBWS sudah mengatur dan mengalihkan sebagian jalur, ternyata Kali Jagir tetap tidak bisa menampung sampai akhirnya meluap. Bayangkan kalau semua jalur dibuka, Surabaya ini akan tenggelam," tutur Eri.
Pemkot Surabaya sengaja membuat box culvert ukuran besar. Tujuannya untuk menampung air ketika hujan tiba tetapi masih belum bisa masuk ke sungai besar. Meski begitu, upaya tersebut belum berhasil membuat Surabaya bebas banjir.
Dikatakan Kepala BBWS Brantas, Hendra Ahyadi, aliran Sungai Brantas dimulai dari Malang, Bendungan Sutami kemudian terus mengalir ke Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Mojokerto Jombang dan Surabaya sebagai hilir.
Oleh karena itu, Hendra menyebut perlu kolaborasi berbagai pihak untuk melakukan penanganan banjir. Termasuk dengan pemerintah kabupaten atau pemerintah kota yang dilintasi Sungai Brantas.
"Kami sebagai UPT dibawah kementrian PU diberikan mandat mengelola. Di sini kami berdiskusi mencari solusi sehingga masalah-masalah seperti enceng gondok dan lainnya bisa teratasi," tukasnya. (*)