
Pemain Timnas Indonesia Beckham Putra berebut bola dengan pemain Jepang Takefusa Kubo (Dok. kitagaruda.id)
JawaPos.com - Timnas Indonesia harus menelan kekalahan pahit usai dihajar Jepang dengan skor telak 0-6 dalam laga terakhir ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, Selasa (10/6). Bermain di Suita Stadium, Osaka, skuad Garuda bahkan tak mampu melepaskan satu tembakan pun sepanjang pertandingan.
Walau hasil ini tidak menggagalkan langkah Indonesia ke ronde keempat, kekalahan ini tetap menyisakan luka. Apalagi, pertandingan ini justru menyoroti kesenjangan besar dalam kualitas dan perencanaan sepakbola kedua negara.
Program naturalisasi pemain yang digalakkan PSSI seolah tak berarti di hadapan kekuatan Jepang yang dibangun lewat pembinaan matang dan struktur kompetisi yang jelas. Jepang memperlihatkan hasil dari kerja panjang dan konsisten selama puluhan tahun.
Banyak pengamat dan suporter menilai laga ini sebagai peringatan keras bagi federasi sepakbola Indonesia. Mereka sepakat bahwa membangun sepakbola tidak bisa instan dan harus disiapkan dari akar.
"Memperbaiki akar rumput tidak instan. Sekarang memperbaiki besok langsung juara Piala Tiger, gak gitu. Hasilnya 10 - 20 tahun lagi. Orang2 di federasi apa mau? Jelas tidak. Karena butuh validasi politik. Mereka jg paham kebanyakan suporter sukanya 'yang penting menangan'," tulis akun X @Indosupporter.
Ia mengkritik minimnya komitmen dari para pemangku kebijakan di federasi. Menurutnya, banyak pejabat federasi hanya mencari validasi politik dan lebih memilih kemenangan jangka pendek.
Hal senada diungkapkan akun X @LaMasia_IDN. "Diajarin Jepang pentingnya blue print yang jelas, federasi yang serius, pembinaan yang bener. Hasilnya teknik dasar kedisiplinan dan mentalnya udah jadi banget semuanya. Rank 15 FIFA saat ini gak diraih dengan instan," tulisnya.
Jepang memang bukan negara yang langsung berjaya di sepakbola. Baru pada 1993 mereka membentuk liga profesional, J-League, sebagai fondasi pembinaan sepakbola nasional mereka.
Menariknya, Jepang sempat belajar dari Indonesia lewat liga Galatama saat merancang J-League. Namun hasilnya justru Jepang yang lebih dahulu sukses melaju ke panggung dunia, dengan debut Piala Dunia pada 1998.
Pada 2005, federasi sepakbola Jepang (JFA) meluncurkan program ambisius bertajuk Japan's Way. Ini merupakan peta jalan besar menuju cita-cita jangka panjang sepakbola Jepang.
Dikutip dari jurnalis Ainur Rahman di akun X @ainurohman, Japan's Way punya dua tujuan utama: menciptakan 10 juta keluarga sepakbola dan menjadi juara dunia pada tahun 2050.
Mereka fokus pada empat aspek utama pembangunan untuk membentuk tim nasional yang kuat, yaitu pengembangan usia muda, pelatihan pelatih, dan penguatan sepakbola akar rumput. Filosofi mereka menekankan bahwa semua orang harus bisa menikmati sepakbola dan menjalani hidup yang bahagia karenanya.
Kini, Jepang sudah menjelma menjadi kekuatan utama Asia. J-League jadi salah satu liga terbaik, dan para pemain binaan lokalnya banyak merumput di klub-klub top Eropa.
Dari sisi prestasi, Jepang juga terus berkembang. Mereka empat kali mencapai babak 16 besar Piala Dunia dan berhasil mengalahkan tim besar seperti Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022.
Hal ini jadi pelajaran besar bagi PSSI bahwa prestasi jangka panjang tak bisa dibangun dengan jalan pintas. Naturalisasi memang bisa jadi alternatif, tetapi tidak akan bisa menaikkan level secara progresif.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
