Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Desember 2024 | 00.33 WIB

Kisah Saga Transfer Aji Santoso ke Persebaya, Didemo Aremania saat Menikah, Rela Pindah ke Rival Abadi demi Selamatkan Keuangan Arema

Aji Santoso saat masih melatih Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)

 

JawaPos.com - Pertemuan Arema FC dengan Persebaya selalu menarik perhatian di jagat persepakbolaan nasional. Apalagi, kedua tim merupakan rival abadi.

Bak El Clasico Real Madrid kontra Barcelona, Persebaya versus Arema merupakan pertemuan penuh rivalitas dan gengsi tinggi dua klub legendaris Tanah Air.

Meskipun demikian, tidak jarang ada pemain dari Arema menyeberang ke Persebaya, dan juga sebaliknya, yang sudah terjadi sejak dulu.

Dari sudut pandang pendukung, perpindahan itu dianggap kurang etis. Namun, dari sudut pandang pemain, hal itu merupakan bentuk dari profesionalitas.

Salah satu kepindahan pemain yang menjadi sorotan dan turut mewarnai rivalitas kedua tim adalah saat Aji Santoso menyeberang dari Arema ke Persebaya pada 1995.

Aji Santoso memang salah satu talenta terbaik yang dimiliki oleh Arema FC yang kala itu masih bernama Arema Malang. Aji mengisahkan bahwa ia sukses menembus tim senior Arema saat ia masih duduk di kelas 2 SMA.

"Saat saya masih di klub Gajayana, ketika itu ada latihan game session, dan lawan yang dihadapi adalah Arema dan pelatihnya waktu itu Sinyo Aliando. Ternyata saat itu saya bisa main bagus, bisa melewati beberapa pemain dari posisi bek kiri, lalu saya crossing dan gol," kenang Aji Santoso seperti dikutip dari akun YouTube Omah Balbalan.

Berkat performanya waktu itu, ia berhasil menarik perhatian Arema, apalagi saat itu ia belum punya nama sebagai pemain sepak bola.

"Orang-orang (Arema) waktu sampai bingung 'siapa anak ini kok mainnya bagus', apalagi saat itu saya belum punya nama (belum terkenal) sebagai pesepak bola dan saya masih kelas 1 SMA," imbuhnya.

Selang beberapa hari, pemilik Arema kala itu bahkan langsung mendatangi Aji Santoso untuk menawarinya masuk ke Arema.

"Saya ingat waktu itu owner-nya Arema sendiri yang mendatangi saya, ngajak ngobrol sambil makan Soto Basket di depan asrama Gajayana, terus saya ditanyain 'Ji, kamu mau kalau ke Arema?', ya saya ditanyain gitu langsung mau tanpa memikirkan berapa bayarannya," ujarnya.

Aji memang mengaku saat itu ia tidak memikirkan berapa gaji yang akan ia terima di Arema, karena baginya waktu itu yang terpenting adalah mengambil kesempatan bergabung dengan klub profesional.

"Saya ingat waktu itu gaji pertama saya di Arema Rp 40 ribu, dan saya tidak memikirkan berapa bayaran yang akan saya terima, karena saya menilai ini kesempatan besar," terangnya.

"Nah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi para pemain muda, jangan melihat materi dulu, tapi ambil dulu jika ada kesempatan besar, manfaatkan sebaik-baiknya, lalu nanti materi akan mengikuti, dan itu sudah saya buktikan," lanjut Aji.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore