
Ali Radjel. (Istimewa)
JawaPos.com - Sepak bola kerap menjadi cermin persoalan sosial dan politik. Hal itu tergambar jelas dalam kisah Ali Radjel, pesepak bola keturunan Sahara Barat, yang hidup dan berkarier di Spanyol, namun membawa luka sejarah dari tanah kelahirannya.
Di tengah persiapan Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, isu Sahara Barat kembali mencuat, termasuk melalui cerita para atlet seperti Radjel.
Ali Radjel lahir di kamp pengungsi Tindouf, Aljazair, kawasan yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal warga Sahara Barat yang terusir akibat konflik dengan Maroko.
Masa kecilnya dihabiskan di gurun dengan kondisi serba terbatas. Air asin yang dikonsumsi sejak kecil bahkan meninggalkan jejak permanen pada giginya. Namun bagi Radjel, itu bukan aib, melainkan penanda asal-usul dan identitas.
Kini berusia akhir 20-an, Radjel menjalani karier sebagai pemain profesional di kasta bawah sepak bola Spanyol. Ia sempat menimba ilmu di akademi Rayo Vallecano dan mencicipi level Segunda Division bersama Numancia, meski sebagian besar kariernya dihabiskan di liga-liga kecil.
Di luar musim kompetisi, ia bekerja sambilan demi menyambung hidup, sebuah realitas yang lazim bagi pemain non-elite di Eropa.
Meski telah menjadi warga negara Spanyol, ikatan emosional Radjel dengan Sahara Barat tidak pernah putus. Wilayah yang kerap disebut sebagai “koloni terakhir Afrika” itu telah disengketakan sejak Spanyol hengkang pada 1975.
Maroko menguasai sebagian besar wilayah, sementara Front Polisario, yang didukung Aljazair, memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dan mendeklarasikan Republik Demokratik Arab Sahrawi.
Gencatan senjata yang dimediasi PBB sejak 1991 menjanjikan referendum penentuan nasib sendiri. Namun hingga kini, janji itu tak pernah terwujud.
Perbedaan pandangan soal siapa yang berhak memilih membuat proses politik buntu. Sementara itu, Maroko terus memperkuat kendali atas wilayah yang kaya fosfat, perikanan, dan potensi energi tersebut.
Dalam konteks olahraga, dampaknya sangat terasa. Sahara Barat tidak memiliki pengakuan resmi sebagai negara, sehingga tim sepak bolanya hanya bisa memainkan laga persahabatan non-resmi.
Radjel bahkan sempat menjadi kapten tim representatif Sahara Barat, sebuah simbol perlawanan sekaligus harapan. Ia bermimpi suatu hari timnya bisa tampil di Piala Afrika, seperti negara-negara Afrika lain yang dulu juga berangkat dari keterbatasan.
Ironisnya, isu Sahara Barat jarang dibahas di luar Afrika. Pembatasan terhadap jurnalis dan ketatnya kontrol informasi membuat konflik ini seolah tenggelam. Padahal, menurut Radjel, ribuan orang telah hidup di pengungsian selama hampir 50 tahun tanpa kepastian masa depan.
Menjelang Piala Dunia 2030, di mana Maroko akan menjadi salah satu tuan rumah, sorotan global terhadap negara tersebut dipastikan meningkat.
Namun kecil kemungkinan isu Sahara Barat akan menjadi agenda utama komunitas internasional, mengingat banyak negara besar telah menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Maroko.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
