Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Agustus 2022, 17.37 WIB

Wal Adhuna

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Wal Adhuna*


 

Sekali waktu kau berdiri tegak, memandang perahu-perahu nelayan pergi menangkap ikan. Lagu ombak kaunyanyikan sambil kaudepa luas lautan. Sekali waktu azan kaukumandangkan, kauhampiri tiap hati yang penuh beban. Nelayan pun berbondong menyinggahimu. Bersembahyang dalam bayang-bayang masa lalu.

 

Sekali waktu kau seperti perahu yang tak punya anjungan, ketika air laut mulai menjilatimu hingga seluruh lantaimu basah. Sajadah tak bisa lagi digelar. Sembahyang tidak bisa lagi ditegakkan. Kuminta kau berlayar saja, seperti perahu yang terapung di dermaga. Tapi kau menggelengkan kepala. Bahkan nakhoda pun kau tak punya. Jemaah meninggalkanmu, ketika air laut pelan-pelan memelukmu dalam pilu.

 

Sekali waktu aku ingin mencatatmu, memandang atapmu pelan-pelan ditelan ombak dan mengubahmu jadi rumpon bagi barramundi dan kerapu. Sekali waktu

aku ingin mengenangmu!

 

Jakarta, 2022

Ket *: Nama masjid di Muara Baru, Jakarta Utara, yang tenggelam pelan-pelan oleh air laut dan kini tinggal tampak atapnya.

---

Jiwa Tiga Gunung


 

Jiwa tiga gunung mengental di Ciliwung

Mengendapkan lumpur di tujuh kanal

Dalam bahasa hujan J.P. Coen berkata,

’’Akan kutegakkan gedung-gedung atas lumpur

Dan kutaklukkan banjir dengan kanal.”

 

Orang-orang pun berlayar bersama cuaca

Membangun kota di ranah bencana

Orang-orang pun berlabuh bersama hujan

Membangun harapan di rentang impian

Orang-orang pun menanam dalam ombak

Mengail ikan di kanal tujuan

 

Jiwa tiga gunung mengendap di muara

meninggalkan banjir di lima penjuru kota

Orang-orang pun berenang ke hulu

Sambil berkata, ’’merdeka atau mati.”

’’Merdeka,” jawab sampah

Sambil menari-nari di kanal kota.

 

Jakarta, 2022

---

Catatan Secawan Debu


 

dari puncak Monas aku memeta

tanah airku. berjuta kuda terus berpacu

mengepulkan sejarah masa lalu

menjadi secawan debu

 

laut yang galau di kaki matahari

menjadi gebalau air mata nelayanku

kerapu dan udang menari

di sela karang yang patah hati

di jaring-jaring para pencuri

 

siapakah yang peduli pada terumbu

yang berserakan tersapu pukat harimau

tenggiri dan kerapu kehilangan lahan berburu

menangis di balik rumpon masa lalu

 

pada mikrofon-mikrofon kota

laut dan hutan tinggal wacana

menjelang pilpres dan pilkada

jadi perdebatan media

lalu dibiarkan berdebu

di balik saku celana

para birokrat negara

 

kemiskinan dan kebodohan

menjadi barang dagangan pemilu

pengangguran dan penggusuran

menjadi jawaban yang disiapkan

untuk mengganjal proyek triliunan

 

secawan anggur tanah airku

nikmat dan memabukkan

membuat para pemimpin lupa

pada amanat di pundaknya

secawan anggur tanah airku

berbusa di mulut kemunafikan

tumpah di kaki para demonstran

yang memadati ibu kota negara

 

akan jadi apakah Jakarta

ketika ditinggal ibu kota?

di Dermaga Sunda Kelapa

aku ingin mengenangmu

 

Jakarta, 2022

---

AHMADUN YOSI HERFANDA

Alumnus FPBS Universitas Negeri Yogyakarta (UNY –dahulu IKIP Yogyakarta). Pernah berkuliah di Universitas Paramadina Mulya dan menyelesaikan magister komunikasi di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia lahir di Kaliwungu, 17 Januari 1958.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore