Sesi pembelajaran fotografi untuk pemula oleh kak Ajeng. (Dok. Tangkapan Layar JPLH)
JawaPos - Fotografi bukan sekadar menekan tombol shutter. Di balik satu jepretan, ada proses berpikir visual, teknis, dan emosional yang saling berkelindan.
Hal inilah yang menjadi fokus utama dalam sesi JawaPos Learning Hub bertajuk “Memahami Fotografi Dasar untuk Pemula” bersama Ajeng Dinar Ulfiana, Seorang fotografer berpengalaman yang telah berkarya di media internasional selama enam tahun, sekaligus edukator visual yang dikenal karena pendekatannya yang menggabungkan kepekaan humanis dengan ketelitian teknis.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Ajeng mengajak peserta untuk memahami fondasi fotografi dari titik awal seperti menentukan objek, memilih sudut pengambilan gambar, hingga merancang komposisi yang kuat.
“Sebelum memotret, hal pertama yang perlu kita pahami sebagai fotografer pemula adalah, apa cerita yang ingin kita sampaikan lewat gambar. Selain itu Sampai hari ini, komposisi dan pemahaman mendalam tentang kamera masih menjadi pedoman utama yang saya pegang, bukan semata soal estetika, tapi juga tentang bagaimana membangun arah narasi visual.” ujar perempuan berkacamata ini.
Salah satu teknik yang dibahas adalah Rule of Thirds, yaitu membagi bingkai foto menjadi sembilan kotak sama besar dan menempatkan objek utama pada titik potong. Teknik ini membantu menciptakan keseimbangan visual dan menarik perhatian penonton secara alami.
Tak hanya soal komposisi, sesi ini juga membedah prinsip dasar fotografi seperti pencahayaan, fokus, dan exposure. Ajeng menjelaskan bahwa exposure adalah jumlah cahaya yang diterima sensor kamera, dan sangat dipengaruhi oleh tiga elemen yaitu, ISO, aperture, dan shutter speed.
"ISO tinggi bisa membantu saat memotret di kondisi minim cahaya, tapi perlu hati-hati karena bisa menimbulkan noise. Shutter speed yang cepat mampu membekukan gerakan dan menangkap objek dengan presisi, sementara shutter yang lambat justru menghasilkan efek blur yang dramatis,” jelasnya sambil menunjukkan contoh foto pertandingan olahraga.
Selain itu Mode kamera seperti Auto dan Program juga turut dibahas. Dalam mode Auto, kamera mengatur semua elemen teknis, sementara mode Program memberikan ruang bagi fotografer untuk melakukan penyesuaian melalui fitur program shift.
Sesi ini juga menyoroti pentingnya sudut pengambilan gambar atau angle. Ajeng mendorong peserta untuk bereksperimen dengan sudut yang tidak biasa agar foto tidak terlihat monoton.
“Sudut pengambilan gambar bisa sepenuhnya mengubah cara kita menyampaikan cerita. Cobalah eksplorasi dari bawah, samping, atau belakang, karena angle yang tidak biasa sering menghasilkan perspektif yang lebih kuat dan menarik. Angle dari bawah, misalnya, masih jarang digunakan, padahal bisa memberikan hasil visual yang sangat menarik dan berbeda".katanya sambil menunjukkan foto jurnalistik dari REUTERS yang diambil dengan sudut eye level dan low angle.
Sesi Pembelajaran ini bukan hanya memperkenalkan teknis fotografi, tetapi juga membuka ruang refleksi visual bagi pemula yang ingin menjadikan fotografi sebagai medium ekspresi.
Dengan pendekatan yang penuh dengan contoh nyata, Ajeng berhasil mengubah teori menjadi praktik yang bisa langsung diterapkan.