Pakar: Manusia Sumber Terlemah Keamanan Siber

27 Oktober 2021, 22:58:30 WIB

JawaPos.com – Dalam konteks keamanan siber khususnya untuk bisnis, tidak sulit untuk menebak elemen mana yang paling kritikal dalam mewakili data perusahaan, pertahanan siber, karyawan, dan tebusan, dalam kasus ransomware.

Pada kasus ini, pakar di Kaspersky menyebut kalau elemen terlemah dalam keamanan Siber adalah manusia itu sendiri. “Sementara banyak orang mungkin mengabaikan skenario di atas sebagai hal yang konyol atau tidak masuk akal, namun nyatanya ini adalah masalah yang semakin relevan yang dihadapi banyak perusahaan,” Kata Chris Connell, Managing Director Asia Pasifik, Kaspersky.

Dia melanjutkan, berdasarkan temuan, awal tahun ini, dalam kurun waktu hanya tiga bulan, enam insiden serangan siber dilaporkan di Singapura dan sekitarnya dan ini tentu saja merupakan tren mengkhawatirkan.

“Meskipun merupakan naluri alami bagi para personel TI untuk merespons dengan memperkuat infrastruktur keamanan siber, mereka demi mencegah terjadinya insiden siber, ini bukan akhir dari semuanya. Dalam hal keamanan siber, personel non-TI (karyawan biasa) dianggap sebagai mata rantai terlemah perusahaan,” sambung Connell.

Untuk pertama kalinya tahun lalu, perusahaan di seluruh dunia bergegas untuk melakukan perubahan menuju online saat pandemi menyebar ke seluruh dunia. Dalam rentang beberapa hari, karyawan membawa pulang pekerjaan mereka, dan saat minggu berganti bulan, karyawan terbiasa bekerja dari rumah dan menyiapkan ruang kantor yang kondusif sebagai upaya menciptakan nuansa bekerja normal.

Namun, di tengah pengaturan ruang kantor pribadi, aspek penting dari telekomunikasi terlewatkan. Dalam survei yang Kaspersky lakukan, sekitar setengah dari responden belum pernah bekerja dari rumah sebelumnya, dan hampir tiga perempat dari mereka tidak menerima panduan atau pelatihan apa pun terkait kesadaran keamanan siber.

Seiring waktu, di saat ruang bekerja fisik telah siap, tetapi ada kesenjangan dalam cara organisasi memberikan pengetahuan dasar TI dan penyegaran tentang praktik kebersihan dunia maya dasar kepada karyawan.

Sementara langkah-langkah jarak sosial terbukti membendung penyebaran virus Covid19 di antara rekan kerja, namun di dunia maya, karyawan yang sama tanpa panduan informasi kebersihan siber ini justru berpotensi melakukan kecerobohan dan memungkinkan penyebaran malware dan virus dalam perusahaan.

“Mungkin mengejutkan bagi sebagian orang bahwa karyawan adalah salah satu kerentanan terbesar bisnis. Namun, lebih dari separuh bisnis percaya bahwa risiko dunia maya mereka berasal dari dalam,” lanjut Connell.

Tiga kekhawatiran keamanan siber teratas dari sebuah bisnis sering kali terkait dengan karyawan atau kesalahan manusia, di antaranya berbagi data yang tidak seharusnya melalui perangkat seluler (47 persen), kehilangan perangkat seluler yang akhirnya menempatkan perusahaan dalam risiko (46 persen) dan penggunaan sumber daya TI yang tidak tepat oleh karyawan (44 persen).

Sementara beberapa orang mungkin menyalahkan sistem keamanan yang seharusnya dapat melindungi perangkat dari potensi kejahatan siber terutama jika terjadi penyalahgunaan perangkat perusahaan, Connell menyebut bahwa kenyataannya adalah banyak karyawan menggunakan perangkat dengan tambalan lama (outdated) hal tersebut membuat pelaku ancaman tahu bagaimana mengeksploitasi kerentanan ini.

64 persen karyawan lainnya yang berdebat dengan departemen TI mereka diizinkan untuk melewati pembaruan atau memilih aspek apa dari sistem keamanan perusahaan untuk diperbarui, dan 44 persen karyawan kurang peduli untuk memperbarui perangkat kerja mereka daripada perangkat pribadi.

“Ini menunjukkan celah di mana karyawan tidak mempertimbangkan keamanan siber sebagai prioritas tinggi. Lebih mengkhawatirkan lagi apabila tidak adanya peran dari para pemimpin bisnis senior di perusahaan yang berpotensi memperburuk masalah sistem keamanan yang sudah ada. Eksekutif senior berpotensi 12x lebih besar menjadi target ancaman dunia maya daripada karyawan lain,” tandas Connell.

Editor : Kuswandi

Reporter : Rian Alfianto

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads