alexametrics

Ramadan-Kepedulian ke Orang Melarat

OLEH : NADJIB HAMID *)
21 Mei 2020, 19:48:27 WIB

SALAH satu fungsi puasa Ramadan adalah menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama masyarakat, terutama yang melarat. Rasulullah menyatakan, man laa yarhamunnas laa yarhamhullah. Siapa saja yang tidak mengasihi terhadap sesama manusia, dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah yang Mahahebat.

Hadis riwayat Imam Muslim tersebut menandaskan bahwa dalam Islam kepedulian terhadap sesama itu sangat penting dan diutamakan. Bahkan ada hadis lain yang menyebut, laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi maa yuhibbu linafsihi. Tidaklah sempurna iman seseorang sebelum dia mengasihi saudaranya sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri.

Secara doktriner semangat berbagi dan peduli terhadap sesama itu luar biasa. Tinggal bagaimana doktrin agama tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata tanpa banyak berdebat.

Untuk peduli dan saling mengasihi tidak perlu banyak syarat. Hanya soal niat dan kesungguhan beragama yang taat. Banyak orang kaya dan pintar tidak peduli. Sebaliknya, tidak sedikit yang tetap peduli meski tidak pintar dan ekonominya melarat.

Beberapa waktu lalu, misalnya, kita mendapat pelajaran hebat. Dari seorang abang becak Surabaya yang setiap malam memperbaiki sendiri jalan-jalan berlubang tanpa perintah aparat. Ketika ditanya, apa yang melatari perbuatannya? ’’Saya tidak ingin ada orang yang jatuh di jalan berlubang tersebut, lalu mati. Saya ingin menyelamatkan nyawa orang,’’ jawabnya singkat.

Di Jogja, juga ada seorang abang becak yang setiap tahun bisa berkorban ternak kambing terbaik di antara ternak korban yang lain, padahal dia tidak memiliki becak sendiri. Caranya, setiap ia membayar sewa becak kepada majikannya, uangnya selalu dilebihkan sebagai tabungan dan diambil setiap tahun jelang Idul Adha.

Mengapa di tengah kesulitan ekonomi, dua abang becak tersebut tetap bisa berbuat mulia dan memberi manfaat? Tidak lain karena niat kuat dan insya Allah karena kesungguhannya dalam beragama. Bagi kita yang memiliki kemampuan relatif lebih, tentu malu jika tidak bisa berbuat lebih hebat.

Lebih-lebih situasi Ramadan tahun ini darurat. Akibat wabah coronavirus disease 2019 atau Covid-19, jumlah orang melarat terus meningkat. Maka, semangat berbagi dan peduli harus diupayakan meningkat. Bukan hanya peduli sehat, melainkan juga peduli ekonomi umat yang kian sekarat. Melalui infak dan zakat.

Korban Lintah Darat

Kebetulan rumah saya dekat dengan pasar rakyat. Di pasar kumuh itu terdapat ribuan pedagang melarat. Mereka berjualan aneka sembako sejak malam hingga pagi dengan jumlah pengunjung yang sangat padat. Tapi, di tengah ribuan orang yang melakukan transaksi ekonomi itu terdapat beberapa ibu yang keliling menghampiri para pedagang untuk menagih cicilan utang berikut bunga berlipat.

Para pedagang kecil itu mengaku terpaksa pinjam uang kepada ’’bank titil’’ karena merasa tidak ada lembaga keuangan yang bisa diutangi tanpa agunan, apalagi dengan proses cepat. Dalam kondisi darurat, mereka masuk perangkap dan akhirnya tidak sedikit yang terjerat.

Umumnya mereka pinjam Rp 1 juta. Tapi, sebelum diterima, dipotong dulu 10 persen sebagai uang syarat. Harus lunas plus bunganya selama dua bulan sebesar 20 persen atau setara 120 persen setahun, sehingga mereka kian melarat.

Kisah tersebut ternyata nyambung dengan apa yang dialami jamaah masjid tempat saya berkhidmat. Ringkas cerita, di masjid ini sejak 1985 memiliki pengajian bulanan pada Jumat. Tapi, hingga memasuki usia seperempat abad, jumlah jamaahnya tidak meningkat. Lalu, mulai awal 2012 pengajiannya diubah hari Ahad.

Sejak saat itu jumlah jamaahnya terus meningkat. Tapi, kemudian ada beberapa yang meminta pengajian dikembalikan ke Jumat dengan alasan supaya tetap bisa jualan di pasar pada hari Ahad. Usulnya kami balik dengan tawaran agar jualannya saja yang dibawa ke pengajian Ahad.

Setelah berjalan beberapa saat, kembali ada yang curhat bahwa tidak sedikit dari mereka yang terperangkap jebakan si lintah darat. Sehingga hasil jualannya habis untuk membayar cicilan utang plus anakan yang berlipat-lipat.

Mereka minta masjid memberikan pinjaman modal tanpa bunga dari uang kas atau zakat. Tapi, setelah dibahas dalam rapat, sebagian besar pengurus menyatakan tidak sependapat. Khawatir dananya diembat.

Mengingat hal ini merupakan problem serius ekonomi umat, beberapa orang sepakat urunan hingga terkumpul dana Rp 15 juta sebagai zakat. Selanjutnya, kami sampaikan kepada mereka bahwa ada uang zakat yang bisa dipinjam tanpa bunga, tapi harus amanah.

Cara pengembaliannya cukup diangsur setiap pekan selama dua puluh kali dengan beberapa syarat. Antara lain, dana yang dipinjam benar-benar digunakan untuk usaha, bukan untuk beli pakaian atau barang-barang kurang bermanfaat.

Untuk memudahkan pembinaan para peminjam dibagi dalam beberapa kelompok dengan syarat: jika ada satu anggota saja yang tidak bayar cicilan, seluruh anggota kelompok disanksi tidak boleh pinjam lagi supaya taat. Selain itu, mereka diharuskan hadir dalam setiap pengajian Ahad.

Alhamdulillah, pelaksanaan program berjalan lancar tanpa ada satu pun yang ngadat. Jumlah peminjam dan nilai pinjamannya pun terus meningkat. Pada gilirannya, jumlah jamaah pengajian naik pesat.

Mengetahui programnya sangat bermanfaat, banyak yang tertarik menyerahkan infak dan zakat. Sehingga pertambahan modalnya berlipat-lipat dan omzetnya lebih dari Rp 1,5 miliar. Semua itu tidak lepas dari peran ibu-ibu hebat, yang mau bergerak dan berkeringat, menangani program ini dengan ikhlas dan amanah.

Alhasil, program skala mikro yang dikerjakan secara sukarela ini setidaknya telah menyelamatkan lebih dari 500 keluarga dari jebakan lintah darat. Andai pola ini bisa dikembangkan di semua masjid dan bersinergi dengan lembaga amil zakat, tentu hasilnya akan jauh lebih hebat.

Memang rakyat tidak cukup hanya dikhotbahi bahwa uang rente itu dilaknat. Tapi, harus pula difasilitasi dan dipagari agar tidak sampai terbelit utang yang menjerat.

Setiap Ramadan kita sudah berpuasa disertai zakat. Tapi, jangan-jangan seperti disinyalir Rasulullah, ’’Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga belaka.’’ Lantaran masih banyak masyarakat melarat.

Rasanya kita semua perlu menata kembali manajemen puasa dan zakat supaya berguna efektif untuk memperbaiki kondisi ekonomi umat. Senada dengan fungsi zakat, agar harta tidak hanya beredar di antara para orang kaya atau konglomerat. (*)


*) Nadjib Hamid, Wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads