alexametrics

Demo di Jayapura Berakhir Rusuh, Mapolsek Dibakar, Lapas Dijebol

Disusupi Provokator
30 Agustus 2019, 10:30:47 WIB

JawaPos.com – Upaya persuasif yang dilakukan pemerintah selama ini belum berhasil meredam kerusuhan di Papua. Kemarin massa kembali mengamuk di Jayapura. Mereka membakar beberapa gedung dan kendaraan.

Beberapa gedung yang dibakar, antara lain, Mapolsek Jayapura Selatan, kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), kantor Telkomsel, dan pertokoan PTC. Sejumlah mobil yang parkir di jalanan juga dihanguskan.

Lapas Abepura juga dibakar dan dijebol hingga beberapa tahanan dikabarkan kabur. Kerusuhan tersebut membuat jalur komunikasi terputus. Hingga sekitar pukul 21.00 tadi malam, Jawa Pos belum berhasil menghubungi jaringan tim peliput dari Cenderawasih Pos.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, aparat keamanan dan para tokoh masyarakat terus berusaha mendinginkan situasi di Jayapura. “Memang ada hambatan komunikasi. Sebagian jaringan komunikasi terputus,” katanya. Berdasar laporan yang masuk ke Mabes Polri, massa awalnya bergerak dari Sentani. Mereka kemudian menuju Jayapura. Polanya mirip dengan kerusuhan sebelumnya. Aksi damai massa mendadak disusupi sekelompok provokator. “Ada setting-an untuk memprovokasi,” tuturnya. Hingga kemarin, belum ada laporan korban jiwa. “Yang ada laporan properti atas fasilitas publik yang dirusak,” ujarnya.

Pada bagian lain, Menko Polhukam Wiranto menilai, aksi-aksi lanjutan yang berujung rusuh di Papua menunjukkan bahwa demonstrasi tidak lagi murni. Pihaknya yakin ada pihak tertentu yang dengan sengaja menunggangi sehingga pergolakan terus terjadi. Terlebih, demonstrasi yang dilakukan sudah mengarah pada tindakan anarki seperti merusak dan membakar kantor, pasar, dan fasilitas-fasilitas publik.

“Jangan sampai ditunggangi pihak lain yang merugikan masyarakat Papua,” ujarnya.

Di sisi lain, aparat keamanan diinstruksikan untuk tidak berlaku represif di Papua. Aparat diminta untuk melakukan pendekatan persuasif. Bahkan, senjata dengan peluru tajam tidak boleh digunakan. Namun, kata Wiranto, upaya tersebut dimanfaatkan pendemo atau pendompleng untuk mencelakai aparat keamanan. Akibatnya, jatuh korban jiwa dari aparat dan masyarakat Papua. “Ada anggota yang dipanah atau diparang. Itu sangat tidak manusiawi. Saya yakin itu bukan bagian dari pendemo,” katanya.

Salah satu tuntutan para demonstran adalah referendum. Menurut Wiranto, permintaan tersebut tidak berdasar dan aneh. Sebab, wilayah Papua dan Papua Barat sejak lama menjadi bagian dari NKRI. “Papua bagian dari NKRI itu final,” tegasnya.

Polisi berjaga di Abepura, Papua, Kamis (29/8). Demonstran memblokade jalan. (AP Photo)

Jaringan Telkomsel Down

Sebagian besar akses telekomunikasi di Papua lumpuh kemarin sore (29/8). Setelah layanan internet diblokir secara penuh sejak 21 Agustus lalu, kemarin layanan telepon dan SMS juga down.

Kemenkominfo membantah anggapan bahwa pihaknya memblokir saluran telepon dan SMS. Menurut Plt Kabiro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu, memang terjadi kerusakan di jaringan telepon.

“Kami sedang berkoordinasi dengan pihak Telkom dan Telkomsel. Menurut info, sepertiga jaringan mereka di Papua dan Papua Barat lumpuh,” katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Pria yang akrab disapa Nando itu menuturkan, sangat mungkin sebagian jaringan kabel terbakar. Akibatnya, layanan telepon dan SMS mati. Nando mengatakan, yang memiliki kerabat di Papua bisa menghubungi mereka lewat jaringan operator lain. “Indosat sampai saat ini masih aktif. Kami masih mau menghubungi XL juga,” terang dia.

Terkait dengan aksi demonstrasi di Jayapura kemarin, Vice President Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin mengonfirmasi bahwa layanan telepon dan SMS Telkomsel di Papua mengalami gangguan.

Selain itu, Grapari Jayapura untuk sementara tidak beroperasi hingga waktu yang belum ditentukan. “Kami sedang mengusahakan percepatan solusi perbaikan. Kami juga terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar layanan telepon dan SMS Telkomsel bisa normal,” ujar Denny saat dihubungi Jawa Pos tadi malam.

Mengenai informasi kebakaran gedung layanan Telkom Group di Jayapura, Denny mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menginventarisasi kondisi di area itu. Dia menjelaskan, Telkomsel terus memantau kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pemda serta pihak keamanan setempat. “Kami ingin memastikan keselamatan seluruh karyawan serta fasilitas, termasuk alat produksi telekomunikasi tetap dalam keadaan aman,” ucap dia.

Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo membenarkan bahwa gedung pelayanan pelanggan Telkom Group di Koti terbakar. Namun, tingkat kerusakan belum dipastikan karena keadaan belum memungkinkan. “Telkom telah mengaktifkan crisis center tingkat nasional di Jakarta dan regional di Makassar yang memantau kondisi infrastruktur dan layanan selama 24 jam,” jelas Arif.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/den/far/mar/tau/agf/c11/c19/c22/c10/oni/fal

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads