
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat seiring memasuki periode kemarau dan adanya fenomena El Niño. (Istimewa)
JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, pemerintah belum menganggap situasi tersebut sepenuhnya aman, sehingga upaya penanganan tetap harus dilanjutkan.
“Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia, sekali lagi kondisi kita belum aman dari karhutla namun tren secara nasional juga menurun membaik,” kata Raja Juli Antoni usai Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, dikutip Selasa (1/9).
Ia menjelaskan, penurunan hotspot terlihat di sejumlah provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla. Berdasarkan data tren harian pada 29-30 Agustus 2026, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah berkurang dari 1.116 menjadi 308 titik atau turun 72,4 persen.
Penurunan juga terjadi di Kalimantan Barat, dari 899 menjadi 455 titik atau sebesar 49,4 persen. Sementara di Kalimantan Selatan, hotspot turun dari 108 menjadi 18 titik atau berkurang 83,3 persen. Adapun Riau mencatat penurunan dari tiga titik menjadi nihil atau turun 100 persen.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi. Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot justru meningkat tipis dari 37 menjadi 39 titik. Sedangkan di Jambi, titik panas bertambah dari satu menjadi dua titik.
Khusus Sumatera Selatan, data lima hari terakhir menunjukkan jumlah hotspot masih mengalami fluktuasi. Pada 26 Agustus tercatat 62 titik, kemudian melonjak menjadi 157 titik pada 27 Agustus. Jumlah tersebut turun menjadi 81 titik pada 28 Agustus, kembali turun menjadi 37 titik pada 29 Agustus, sebelum sedikit meningkat menjadi 39 titik pada 30 Agustus.
Raja Juli mengingatkan, penurunan jumlah hotspot belum dapat dijadikan indikator bahwa persoalan karhutla, terutama asap, telah sepenuhnya berakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di wilayah yang memiliki lahan gambut.
“Tapi sekali lagi hotspot ini tidak menandakan bahwa tidak ada asap, karena nature-nya gambut meskipun tidak ada apinya asapnya tetap selalu terlalu ada,” ujarnya.
Menurut dia, lahan gambut membutuhkan penanganan berkelanjutan meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat. Pendinginan dan pembasahan secara intensif diperlukan untuk mencegah titik api kembali muncul.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Prediksi Skor Lecce vs Roma di Liga Italia: Misi I Giallorossi Curi 3 Poin di Stadio Via del Mare!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Celta Vigo vs Athletic Bilbao: Masih Tumpul, Los Leones Terancam Gagal Menang Lagi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
5 Arti Burung Perkutut Bunyi di Malam Hari, Mitos atau Pertanda Gaib? Simak Maknanya Berikut
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
Pemerintah Tutup Permanen 455 SPPG Karena Tak Penuhi SLHS, Ini Data Rinciannya
