Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Juni 2021 | 03.57 WIB

Satgas Covid-19: Yang Di-lockdown itu Diri Kita Sendiri, Bukan Pulau!

Warga melintas dengan latar belakang mural anjuran menggunakan masker di kawasan Cilangkap, Jakarta, Jumat (2/10/2020). Program gebrak masker diharapkan dapat memberi kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya memakai masker dan mengikuti anjuran protoko - Image

Warga melintas dengan latar belakang mural anjuran menggunakan masker di kawasan Cilangkap, Jakarta, Jumat (2/10/2020). Program gebrak masker diharapkan dapat memberi kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya memakai masker dan mengikuti anjuran protoko

JawaPos.com - Angka penularan Covid-19 di Tanah Air terus saja bertambah. Hal ini membuat banyak pihak yang mengusulkan supaya pemerintah melakukan lockdown.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Alexander K Ginting mengatakan adanya lockdown bukanlah solusi yang tepat. Saat ini untuk memutus penyabaran Covid-19 di dalam negeri adalah dengan cara me-lockdown diri sendiri.

"Jadi kita tidak perlu lockdown satu pulau, yang di-lockdown itu diri kita," ujar Alexande dalam diskusi secara virtual di Jakarta, Sabtu (26/6).

Alexander menuturkan, masyarakat harus menahan diri untuk bertemu dengan orang banyak dengan situasi seperti saat ini. Misalnya menunda untuk mudik ke kampung halaman.

"Kalau ada kerinduan mudik, itu lah yang di-lockdown. Kalau ada yang kepingin ngobrol-ngobrol atau masuk ke warteg, itu yang di-lockdown. Kalau kita kerumunan ke pasar, itu yang di-lockdown," katanya.

Oleh sebab itu yang lebih efektif bukanlah melakukan lockdown satu pulau. Melainkan permasalahannya ada pada diri kita sendiri untuk berdisiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Jadi jangan kita misalnya mengejar tikus, rumahnya dibakar. Ya kejar tikusnya, jangan rumahnya dirusak," ungkapnya.

Alexander menuturkan, pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro, dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak akan efektif dilakukan kalau masyarakatnya tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Lihat saja kemarin yang mudik, yang marah-marah di mobil siapa? Ibu-ibu kan? Kalau sudah ibunya marah, bapak yang nyupir emosi juga. Persoalannya di situ. Kemudian kita lihat di Jembatan Suramadu, kita mau cegah kasih swab gratis saja, (masyarakat-Red) bisa ngajak kita duel," pungkasnya.

Diketahui sampai dengan Sabtu (26/6) sebanyak 21.095 orang positif Covid-19, angka ini memecahkan rekor di Indonesia. Sehingga total penularan Covid-19 di dalam negeri mencapai 2.093.962. Kemudian angka meninggal dunia totalnya sudah mencapai 56.729 orang.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore