
PERLAWANAN ANTI-TALIBAN: Pria bersenjata anggota pasukan anti-Taliban di Bazarak, Panjshir (18/8). (AHMAD SAHEL ARMAN/AFP)
JawaPos.com–Pemerintahan Afghanistan yang berhasil digulingkan kelompok Taliban direspons Ken Setiawan, seorang mantan teroris dan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center. Sosok yang kini menjadi pengamat terorisme itu khawatir, gerakan Taliban membuat semangat kelompok radikal di Indonesia bangkit.
”Kalau dari sisi motivasi ini menjadi semangat kelompok-kelompok teman-teman yang sudah berhaluan radikal di Indonesia. Sebagaian di sini mereka mendukung bahkan turut merayakan kebangkitan Taliban,” tutur Ken Setiawan ketika dihubungi pada Kamis (26/8).
Ken mencontohkan dengan gerakan yang pernah berkibar di Indonesia, misalnya JI (Jamaah Islamiyah) dan JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Dia merasa kelompok tersebut memang tidak berhubungan langsung dengan Taliban. Namun petinggi kelompok tersebut pernah menjadi militer Afganistan.
Menurut Ken, mereka secara pemikiran tak jauh berbeda. ”Walaupun Taliban ini akidahnya ahlusunah wal jamaah tapi permasalahannya, mereka bergaul dengan orang orang Salafi-Wahabi jadi akhirnya terkontaminasi juga dengan mereka (Taliban),” terang Ken Setiawan.
Menurut dia, kelompok-kelompok radikal di Indonesia jika bergaul dengan kelompok-kelompok yang terindikasi berakidah Salafi-Wahabi, akan memiliki pemikiran serupa. Mereka memahami bahwa tidak bisa menegakkan syariat Islam tanpa kekuasaan.
”Sehingga harus menggulingkan kekuasaan terlebih dahulu. Jadi tujuan mereka sebenarnya kekuasaan bukan dakwah yang seperti kita lihat pada umumnya dan potensi konfliknya cukup besar ketika berhadapan dengan kelompok nasionalisme moderat seperti NU. Ini sekali lagi kalau dibiarkan tidak menutup kemungkinan bakal seperti Suriah, Libya, dan Afganistan,” beber Ken Setiawan.
Dia bersyukur Indonesia memiliki konsep kearifan lokal dan Pancasila. Dia berharap agar pemerintah bisa memperkuat ideologi Pancasila di masyarakat. Pemerintah harusnya berusaha untuk membasmi ideologi yang mengarah pada paham radikal. Bukan hanya menangkap orang yang sudah terindikasi sebagai teroris.
”Seperti di Libya itu yang radikal atas nama agama hanya 10 persen yang 90 persen itu mendukung pemerintah tapi karena 10 persen itu dibiarkan bisa provokasi bisa menggulingkan kekuasaan,” tutur Ken Setiawan.
Dia menambahkan, pemerintah perlu membuat regulasi yang jelas dan tegas untuk bertindak agar apa yang terjadi dengan Taliban tidak terjadi di Indonesia. ”Jadi ini ngeri. Bila tidak diantisipasi, tidak mustahil Indonesia akan seperti Suriah, Afganistan, atau Libya,” kata Ken Setiawan.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
