Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Juli 2021 | 18.06 WIB

Luhut Klaim Penanganan Covid-19 Terkendali, Pakar: Uncontrollable!

Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/6/2021). Kasus COVID-19 di Indonesia masih terus melonjak sampai saat ini. Per Sabtu (26/6/2021) ini, kasus baru harian CO - Image

Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/6/2021). Kasus COVID-19 di Indonesia masih terus melonjak sampai saat ini. Per Sabtu (26/6/2021) ini, kasus baru harian CO

JawaPos.com - Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim situasi penanganan Covid-19 di Indonesia masih terkendali. Namun, hal berbeda diungkapkan oleh Pakar Kesehatan dari IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) dr. Hermawan Saputra. Menurutnya, situasi Covid-19 di Indonesia justru tidak bisa dikendalikan atau tak terkendali.

"Kasus kita saja 29 ribu kasus sehari spesimennya 11 ribu. Ada yang turun lagi bahkan. Rata-rata spesimen kita tak signifikan, tak beranjak ke mana-mana tapi kasusnya signifikan. Berarti kecepatan penularan di lapangan itu jauh lebih dari yang kita bayangkan, uncontrollable, tak mampu dikontrol," tegasnya kepada JawaPos.com, Selasa (6/7).

Menurut dr. Hermawan, Indonesia menghadapi situasi yang jauh dari kata terkendali karena bermasalah di kedua sisi. Pertama, dari sisi masyarakat kan sulit menyeragamkan perilaku dengan kejenuhan lebih dari 16 bulan. Maka tingkat kedisiplinan tidak sama, karena latar belakang ekonomi pendidikan dan juga sosial budaya.

Baca Juga: Erick Thohir Akui BUMN Tak Bisa Produksi Oksigen, Tapi Siap Membantu

"Tapi memang tak boleh berhenti untuk menganjurkan protokol kesehatan 5M, apapun situasinya. Sehingga walaupun menyeragamkan situasi tak akan mungkin, tetapi juga 5M jangan berhenti," katanya.

Di sisi kedua, kata dia, mengharapkan perilaku masyarakat bisa selaras namun juga harus dibarengi dengan tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab pemerintah itu adalah 3T, tracing testing, dan treatment.

"Nah tetapi sekarang 3T ini tak lagi dimulai dari testing dan tracing, tetapi dimulai dari treatment. Kenapa? Karena seluruh fasilitas rujukan Covid-19 itu sudah over kapasitas kan, tak lagi biasa-biasa saja. Dengan adanya kemandekan di rumah sakit rujukan maka ada bottle neck, sumbatan sehingga testing dan tracing menjadi masalah," tukasnya.

Ia menyarankan agar paling utama yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah mempercepat penyiapan fasilitas perawatan, ruang-ruang isolasi mandiri dan juga ruang-ruang ICU. Hal itu dilakukan sembari melakukan penyelidikan epidemiologi.

"Penyelidikan itu harus diikuti dengan testing yang masif," sambungnya.

Menurut dr. Hermawan, kasus Covid-19 di Indonesia belum terkendali. Apalagi Indonesia berpacu dengan waktu, karena kita efektivitas PPKM darurat baru akan terlihat hasilnya dalam 2 minggu ke depan.

"Baru terlihat efektivitasnya dalam 2-3 minggu ke depan, sementara dalam hari-hari ini kematian kesakitan itu luar biasa meningkat dengan tajam. Maka harus dipararelkan dengan 3T tadi ya. Dan harus diubah, bukan testing tracing dan treatment. Tapi treatment, tracing dan test. Dimulai dari kapasitas perawatan pengobatan baru diikuti dengan tracing dan tes," tutupnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore