
TURN BACK HOAX: Persebaran berita hoax yang makin masif di masyarakat harus disikapi dengan smart. Jangan sampai termakan isu yang menimbulkan perpecahan antarsesama.
JawaPos.com -Hoax (informasi palsu) dan berita provokatif sedang ngehit belakangan ini. Kalau tidak pintar menyaring, bisa-bisa kita termakan isu yang tidak benar dan menimbulkan perpecahan. Siapa yang ada di belakang para pembuat hoax dan berita provokatif itu? Siapa yang bayar? Apa tujuan besarnya? Jawa Pos For Her berbincang dengan Taufik*, salah seorang admin situs berita provokatif yang dikategorikan hoax oleh pemerintah. Berikut ceritanya. (*) nama samaran, identitas dan situs yang dikelola ada pada redaks.
Siapa yang menggagas situs ini? Saya menggagas situs ini sejak Juli 2015. Saat itu, berita yang dimuat lebih bersifat mengkritisi pilkada di Sumatera Barat, tempat saya tinggal. Misalnya, pemilihan gubernur, wali kota, dan sebagainya. Setelah itu, saya mulai melebarkan sayap ke pemberitaan skala nasional yang memang terlihat lebih ”menjanjikan”.
Prosesnya seperti apa? Awalnya, kami cari pembaca dengan cara mem-broadcast berita ke grup-grup yang pro-Prabowo Subianto. Juga ke grup-grup anti-Jokowi di Facebook dan Twitter. Akhirnya jadi ramai seperti sekarang.
Timnya terdiri atas berapa orang? Awalnya, situs ini dikelola lima orang, termasuk saya. Tiga orang menjadi penulis dan dua menjadi admin medsos. Tapi, ada satu anggota yang keluar, akhirnya sekarang tinggal berempat.
Semua full time bekerja di sini? Nggak sih. Tiap anggota punya profesi lain. Misalnya, saya masih berstatus mahasiswa di perguruan tinggi negeri Sumatera Barat. Kami tidak punya kantor redaksi. Semua bekerja sendiri-sendiri. Koordinasi kami lakukan melalui grup di WhatsApp.
Bagaimana cara kalian membuat berita provokatif? Sebetulnya, kami tidak membuat berita baru, melainkan hanya me-repost dari media-media mainstream. Misalnya, Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan sebagainya. Sumbernya juga kami sertakan. Bedanya, kami berani mengganti judulnya menjadi lebih frontal. Kalau media mainstream kan terikat kode etik, nah kami bebas. Dengan judul yang frontal itu, berita jadi lebih viral dan dikritisi banyak orang.
Contohnya?Misalnya nih, berita tentang (Menko Maritim) Luhut Pandjaitan bilang bahwa negara lain bebas memberi nama sekitar 4.000 pulau milik Indonesia. Judulnya kami ubah jadi Sodorkan 4.000 Pulau ke Asing, Pemerintah Jangan Asal-asalan Mengelola NKRI. Jadi lebih frontal. (Judul itu kemudian viral dan ditemukan di berbagai portal berita online, Red).
Konten berita selalu ambil dari berita mainstream? Iya. Dulu kami sempat me-repost berita yang ternyata salah dari media mainstream. Saat itu, beritanya tentang Monumen Rakyat Purwati di TMII. Belum sempat klarifikasi, kami sudah keburu di-judge sebagai penyebar hoax oleh pemerintah. Bahkan, sempat beberapa kali diblok. Kami juga memuat beberapa berita opini dari tokoh-tokoh yang punya satu pandangan dengan kami.
Kenapa memilih judul yang provokatif? Saya pribadi memang lebih condong ke salah satu tokoh pemerintahan. Sebetulnya, situs ini oposisi sama pemerintah. Sebagian besar media kan pasti pro sama pemerintah. Nah, kami hadir untuk mengimbangi buzzer pemerintah tersebut. Tapi, pemerintah nggak pernah mempermasalahkan media yang pro sama mereka tuh. Cuma media kontra seperti kami yang dipermasalahkan. Waktu situs kami diblokir, kami sempat kirim e-mail keberatan ke Kominfo. Kominfo ingin kami mengurangi berita provokatif. Kami setuju, tapi belum direspons lagi sama mereka. Akhirnya, kami buat domain baru saja.
Apakah situs ini juga mendapat keuntungan? Situs yang diblokir itu mencapai 800 ribu visitor per hari. Dengan visitor segitu, kami mendapat Rp 25–30 juta per bulan dari Google Ads. Pendapatan itu dibagi rata kepada semua anggota tim. Satu orang kira-kira mendapat Rp 5 juta. Ada juga dana untuk maintenance situs. Tapi, karena situs kami sekarang baru, visitor-nya pun menurun. Hanya 100–120 ribu orang per hari.
Akibatnya?Penghasilan dari iklan menurun. Di situs yang baru ini, kami sedikit mengurangi berita kritik terhadap pemerintah. Ya, kalau dihitung, 70 persen berita kritik, 30 persen berita netral. Meski berita netral, pembaca situs ini biasanya tetap berkomentar negatif. (and/c6/na/tia)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
