Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 April 2021 | 06.35 WIB

Ahli Sebut Vaksin Nusantara Dilanjutkan dengan Publikasi Penelitian

Peserta mengikuti proses layanan vaksinasi lansia di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Selasa (3/4/2021). Hingga tanggal 11 April 2021, kurang lebih 72,370 Lansia dan berbagai segmen masyarakat telah melaksanakan vaksinasi. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Peserta mengikuti proses layanan vaksinasi lansia di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Selasa (3/4/2021). Hingga tanggal 11 April 2021, kurang lebih 72,370 Lansia dan berbagai segmen masyarakat telah melaksanakan vaksinasi. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com–Ahli kesehatan Andreas Harry Lilisantoso yang juga anggota International Advance Research Asosiasi Alzheimer Internasional (AAICAD) menyarankan Vaksin Nusantara terus dilanjutkan. Namun harus diiringi dengan publikasi ilmiah baik nasional maupun internasional.

”Perihal Vaksin Nusantara ini, lanjutkan saja terus penelitiannya dan penuhi kriteria-kriteria riset yang lazim dalam dunia ilmiah. Lalu dilengkapi publikasi dalam jurnal nasional maupun internasional,” kata Harry seperti dilansir dari Antara di Jakarta, Sabtu (17/4).

Dengan adanya jurnal ilmiah, baik nasional dan juga internasional, kata dia, semua pihak terkait bisa dan terbuka melakukan kajian-kajian. ”Sehingga bisa menghindarkan penilaian bahwa itu jangan promosi atau bahkan sekadar komentar-komentar,” kata Harry yang juga ahli saraf lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) itu.

Menurut Andreas Harry, yang juga sukarelawan yang terlibat dalam membantu menggalang bantuan nutrisi bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19, bila yang dominan adalah komentar-komentar, terlebih dari kalangan yang tidak dalam kapasitas mengkaji sesuai keilmuan kesehatan, yang terkesan minta pengakuan atas efektivitas vaksin, maka lebih banyak pada kondisi kontraproduktif.

Terkait polemik Vaksin Nusantara, dia juga tidak setuju jika ada pendapat bahwa satu institusi yang berwenang, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), akan menghambat suatu penelitian yang bagus. Kemungkinan ada kesalahan prosedur atau ada yang menyimpang secara prosedur atas kaidah-kaidah penelitian sehingga kemudian disampaikan BPOM terkait Vaksin Nusantara itu.

Atas polemik yang ada, dia menyarankan bisa dilakukan dialog dan komunikasi antarpihak terkait sehingga dapat dicapai pemahaman bersama. Hal itu guna mengetahui sekaligus memperbaiki apa-apa saja yang dirasa perlu dilengkapi dan disempurnakan.

Dia berharap agar Terawan Agus Putranto yang juga sesama alumni FK Unair, berhasil dalam penemuan vaksin yang sungguh-sungguh ilmiah. ”Harapannya, beliau terus melanjutkan penelitian Vaksin Nusantara itu dengan standar-standar ilmiah yang bisa dikaji pihak terkait,” kata Andreas Harry.

Indonesia dalam pengadaan vaksin Covid-19 juga sedang dalam proses membuat Vaksin Merah Putih. Guna mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tanggal 3 September 2020 telah membentuk Tim Pengembangan Vaksin Covid-19.

Tim itu bertugas mengembangkan vaksin Covid-19 produksi dalam negeri yang diberi nama Vaksin Merah Putih. Vaksin dalam negeri bertujuan untuk menciptakan kemandirian pemenuhan kebutuhan vaksin Covid-19.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/AqzwceTP2zM

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore