
Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/6/2021). Kasus COVID-19 di Indonesia masih terus melonjak sampai saat ini. Per Sabtu (26/6/2021) ini, kasus baru harian CO
JawaPos.com - Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim situasi penanganan Covid-19 di Indonesia masih terkendali. Namun, hal berbeda diungkapkan oleh Pakar Kesehatan dari IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) dr. Hermawan Saputra. Menurutnya, situasi Covid-19 di Indonesia justru tidak bisa dikendalikan atau tak terkendali.
"Kasus kita saja 29 ribu kasus sehari spesimennya 11 ribu. Ada yang turun lagi bahkan. Rata-rata spesimen kita tak signifikan, tak beranjak ke mana-mana tapi kasusnya signifikan. Berarti kecepatan penularan di lapangan itu jauh lebih dari yang kita bayangkan, uncontrollable, tak mampu dikontrol," tegasnya kepada JawaPos.com, Selasa (6/7).
Menurut dr. Hermawan, Indonesia menghadapi situasi yang jauh dari kata terkendali karena bermasalah di kedua sisi. Pertama, dari sisi masyarakat kan sulit menyeragamkan perilaku dengan kejenuhan lebih dari 16 bulan. Maka tingkat kedisiplinan tidak sama, karena latar belakang ekonomi pendidikan dan juga sosial budaya.
Baca Juga: Erick Thohir Akui BUMN Tak Bisa Produksi Oksigen, Tapi Siap Membantu
"Tapi memang tak boleh berhenti untuk menganjurkan protokol kesehatan 5M, apapun situasinya. Sehingga walaupun menyeragamkan situasi tak akan mungkin, tetapi juga 5M jangan berhenti," katanya.
Di sisi kedua, kata dia, mengharapkan perilaku masyarakat bisa selaras namun juga harus dibarengi dengan tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab pemerintah itu adalah 3T, tracing testing, dan treatment.
"Nah tetapi sekarang 3T ini tak lagi dimulai dari testing dan tracing, tetapi dimulai dari treatment. Kenapa? Karena seluruh fasilitas rujukan Covid-19 itu sudah over kapasitas kan, tak lagi biasa-biasa saja. Dengan adanya kemandekan di rumah sakit rujukan maka ada bottle neck, sumbatan sehingga testing dan tracing menjadi masalah," tukasnya.
Ia menyarankan agar paling utama yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah mempercepat penyiapan fasilitas perawatan, ruang-ruang isolasi mandiri dan juga ruang-ruang ICU. Hal itu dilakukan sembari melakukan penyelidikan epidemiologi.
"Penyelidikan itu harus diikuti dengan testing yang masif," sambungnya.
Menurut dr. Hermawan, kasus Covid-19 di Indonesia belum terkendali. Apalagi Indonesia berpacu dengan waktu, karena kita efektivitas PPKM darurat baru akan terlihat hasilnya dalam 2 minggu ke depan.
"Baru terlihat efektivitasnya dalam 2-3 minggu ke depan, sementara dalam hari-hari ini kematian kesakitan itu luar biasa meningkat dengan tajam. Maka harus dipararelkan dengan 3T tadi ya. Dan harus diubah, bukan testing tracing dan treatment. Tapi treatment, tracing dan test. Dimulai dari kapasitas perawatan pengobatan baru diikuti dengan tracing dan tes," tutupnya.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
