
Ilustrasi: Pengemudi ojol. Kalangan pengemudi ojol menyatakan tidak ikut aksi 17 September 2025 dan tetap on-bid. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Rencana aksi demonstrasi yang mengatasnamakan pengemudi ojek online (ojol) pada Rabu (17/9) besok memantik perdebatan di kalangan mitra transportasi daring sendiri.
Alih-alih solid, sejumlah komunitas driver justru menolak keterlibatan mereka dalam gerakan ini. Bahkan, aksi tersebut dituding sarat muatan politik dan tidak mewakili kepentingan mayoritas pengemudi.
“Kalau menurut saya justru mereka itu bukan bagian dari ojol. Itu hanya sebagian kecil, oknum saja, dan tidak mewakili driver. Bahkan inisiatornya pun bukan pengemudi ojol karena tidak memiliki akun mitra,” kata Michael, perwakilan komunitas ojol Unit Reaksi Cepat (URC), Senin (15/9).
Michael memastikan mayoritas pengemudi di berbagai grup komunitas WhatsApp sepakat untuk tetap bekerja seperti biasa.
“Banyak teman-teman yang sepakat tetap on-bid. Apalagi kami tahu aksi ini ditunggangi oleh oknum politik dengan iming-iming sembako,” ujarnya.
Isu bahwa demo ojol 17 September akan mengganggu layanan transportasi online juga dibantah. “Order tetap jalan, aplikasi tetap buka, jadi tidak akan ada gangguan berarti di lapangan,” tegasnya.
Indonesia memiliki jutaan mitra pengemudi ojol yang tersebar di berbagai kota. Dalam beberapa tahun terakhir, aksi unjuk rasa memang kerap digelar, terutama terkait skema insentif, tarif, dan potongan komisi dari aplikasi. Namun, dinamika kali ini dianggap berbeda.
“Banyak tuntutan yang tidak masuk akal, seperti potongan 10 persen. Justru sebagian besar pengemudi menilai potongan 20 persen masih memberi benefit karena ada layanan balik yang kami rasakan,” jelas Michael.
Selain soal tuntutan, komunitas driver juga menyoroti penggunaan nama almarhum Affan dalam seruan aksi.
“Keluarga sudah menegaskan tidak ingin nama almarhum dipakai dalam politik jalanan. Itu bentuk pemanfaatan saja. Aksi ini jelas dipolitisasi,” tambahnya.
Penunggangan politik dalam aksi ojol sejatinya bukan hal baru. Beberapa kali, demonstrasi pengemudi menarik perhatian partai politik atau kelompok kepentingan tertentu.
Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mayoritas pengemudi kini lebih berhati-hati. Banyak yang memilih jalur dialog ketimbang aksi massa di jalan.
Dengan narasi yang kian beragam, rencana demo 17 September besok memperlihatkan bagaimana ruang gerak pengemudi ojol rentan dijadikan arena politik.
Sementara di sisi lain, mayoritas driver tampak lebih fokus menjaga keberlangsungan pendapatan harian ketimbang terseret kepentingan elektoral.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
