
Tim SAR bersiap mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil Juliana De Souza Pereira Marins di Gunung Rinjani NTB. (Basarnas)
JawaPos.com - Operasi SAR terhadap pendaki asal Brasil bernama Juliana De Souza Pereira Marins di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) sempat menuai perdebatan. Warganet dari Brasil beradu argumen dengan warganet Indonesia. Diantaranya berkaitan dengan proses evakuasi yang tidak menggunakan helikopter.
Pakar penerbangan Gerry Soejatman pun buka suara. Dia menyampaikan beberapa hal mengenai operasi SAR tersebut. Gerry menjelaskan Basarnas memang memiliki helikopter untuk melaksanakan SAR. Yakni Helikopter AW139 dan AS365. Kedua helikopter itu memiliki fungsi dan peran masing-masing. Namun, bukan untuk operasi SAR dengan medan lokasi jatuhnya Juliana.
”Kejadian lokasi ada di ketinggian 10 ribu kaki, dimana korban jatuh di lereng ke ketinggian sekitar 9.400 kaki. Mau terbang mountain rescue benar-benar tergantung dengan cuaca dan kemampuan helikopternya,” ungkap Gerry saat dikonfirmasi pada Kamis (26/6).
Dia pun menjelaskan, untuk hoisting helikopter harus hover. Baik untuk Hover In Ground Effect (IGE) maupun Hover Out of Ground Effect (OGE). Khusus Hover IGE, Gerry menyatakan bahwa helikopter harus dibantu oleh bantalan tekanan udara tinggi pada baling-balingnya. Itu pun terbatas pada ketinggian 10-15 meter di atas permukaan datar.
”Jelas lokasi korban bukan di tanah datar. Nah, kalau tidak hover IGE, ya harus hover OGE. Disinilah kita ketemu masalahnya,” jelas Gerry.
Helikopter AW139 yang dioperasikan oleh Basarnas, lanjut dia, ketinggian maksimum untuk melakukan hover OGE adalah 8.130 kaki di atas permukaan laut. Sementara Helikopter AS365 hanya bisa melakukan hover OGE maksimum pada ketinggian 3.740 kaki.
”Jadi, di sini bisa kelihatan, Helikopter Basarnas tidak akan bisa melakukan hoisting rescue korban, mau cuacanya bagus sekali pun,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii sudah menyampaikan bahwa operasi SAR pada ketinggian seperti di Gunung Rinjani tidak bisa disamakan dengan operasi SAR di lokasi datar. Upaya maksimal sudah dilakukan Basarnas bersama Tim SAR Gabungan. Bahkan sampai hari terakhir evakuasi berjalan pada Rabu (25/6), upaya mengirim helikopter untuk membuat proses evakuasi lebih cepat masih tidak bisa dilakukan.
”Proses evakuasi pada saat terjadi kedaruratan di ketinggian dan juga di kedalaman artinya di jurang efeknya mungkin tidak sama seperti yang ada di permukaan dengan ketinggian yang rata,” kata Syafii.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
