
Soekarno. (mobile.isukarno).
JawaPos.com - Pada 7 Januari 1965, Indonesia mencatatkan sejarah dengan secara resmi mengumumkan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Informasi yang diperoleh oleh JawaPos.com dari perpusnas.go.id dalam folder "Indonesia Keluar PBB" Senin (06/01), Langkah yang diumumkan langsung oleh Presiden Soekarno ini menimbulkan perdebatan panjang di tingkat internasional. Apakah ini sekadar keputusan politik, atau ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan oleh Indonesia kepada dunia?
Mengapa Indonesia Memilih Keluar?
Keputusan Indonesia keluar dari PBB bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Dalam pidato Presiden Soekarno, “Membangun Dunia Kembali” tahun 1960, ia telah menyoroti ketidakpuasan Indonesia terhadap struktur Dewan Keamanan PBB yang dianggap tidak mencerminkan realitas dunia pasca-Perang Dunia II.
Ketidakadilan ini diperburuk dengan masuknya "Malaysia" sebagai anggota Dewan Keamanan pada 1965. Bagi Indonesia, "Malaysia" dianggap sebagai alat imperialisme yang sengaja digunakan untuk mengisolasi Revolusi Indonesia.
Soekarno dengan tegas menyatakan bahwa “mahkota kemerdekaan bukanlah keanggotaan PBB, melainkan berdiri di atas kaki sendiri.” Pernyataan ini mencerminkan semangat revolusioner Indonesia yang ingin lepas dari cengkeraman neokolonialisme dan imperialisme yang kerap menggunakan PBB sebagai alat legitimasi.
PBB: Harapan yang Pupus?
Didirikan pada 1945, PBB awalnya diharapkan menjadi penjaga perdamaian dan keadilan internasional. Namun, menurut pengalaman Indonesia, organisasi ini sering kali menjadi alat bagi kekuatan besar.
Contoh nyata adalah keterlibatan PBB dalam sengketa Irian Barat. Alih-alih mendukung perjuangan Indonesia, PBB justru kerap berpihak pada Belanda melalui manipulasi seperti plebisit yang tidak berpihak pada rakyat Papua.
Situasi serupa terjadi dalam kasus pengakuan "Malaysia", di mana manipulasi terang-terangan oleh imperialis menciptakan provokasi terhadap kedaulatan Indonesia.
Selain itu, berbagai kasus internasional seperti pendirian Israel yang memecah Palestina, blokade ekonomi terhadap Kuba, dan pembunuhan patriot Kongo Patrice Lumumba menunjukkan bahwa PBB gagal menjalankan mandatnya sebagai penjaga perdamaian.
Dampak dan Pesan untuk Dunia
Keputusan Indonesia keluar dari PBB membawa dampak besar. Hampir satu miliar penduduk dunia saat itu berada di luar organisasi tersebut. Langkah ini menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar yang menggunakan PBB sebagai alat neokolonialisme.
