JawaPos.com - Direktur Eksekutif Ma'arif Institute Andar Nubowo mengingatkan, nilai-nilai universal agama menjadi salah satu sumber moralitas tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menegaskan, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan nilai-nilai keburukan, semua nilai-nilai universal agama selaras dan integral dengan nilai etika dan moralitas secara umum.
Menurutnya, orang yang menjalankan ajaran agamanya secara paripurna juga akan berperilaku secara etis.
"Religiutas bangsa Indonesia sudah terangkum dalam diktum pembukaan UUD 1945 dan sila pertama Pancasila, sebagai urat tunggang menurut Buya Hamka di dalam satu tulisan tahun 1950, yang mendasari atau mempengaruhi sila lainnya," Kata Andar Nubowo kepada wartawan, Kamis (26/9).
Namun, fenomena yang terjadi saat ini ajaran agama hanya menggema menjadi sebuah ritual tanpa penghayatan. Ia berpendapat, agama hanya menjadi simbol dan institusi, bukan dimaknai dalam lubuk hati dan diimplementasikan menjadi perilaku.
Ia menyesalkan, para penyelenggara negara yang niretika seolah-olah mencederai wajah Indonesia sebagai negara beragama.
"Yang jadi keprihatinan adalah kita saksikan peluruhan etika dan moralitas publik yang banal di depan mata. Sebuah paradoks di negara yang beragama dan Pancasila," ucap Andar.
Hal itu tercermin dalam beberapa problematika di antaranya praktik korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan terhadap perempuan, egoisme, hedonisme, perilaku diskriminatif, perampasan terhadap sumber daya alam, perusakan lingkungan (ecological justice), perdagangan manusia (human trafficking), krisis integritas dan banyaknya conflict of interest, politisasi agama dan politik identitas.
Hal lainnya, lanjutnya, adalah menguatnya stereotif negatif dan prejudice, oligarki, munculnya politisi rabun ayam menurut buya Hamka (radikal, rakus, tamak), rezim agama, ekstrimisme keagamaan, rendahnya amanah dan tanggung jawab dalam pemerintahan.
"Hingga menyebabkan erosi kepercayaan publik dan lain sebagainya," ujar Andar.
Lebih lanjut, Andar mengutarakan jika ditelusuri salah satu akar persoalan etika, bukan hanya persoalan negara tetapi juga merupakan persoalan masyarakat, sehingga kesalahan sistem pembentukan karakter masyarakat menentukan sistem bernegara yang ideal.
"Kalau kita gunakan cara pandang bahwa elite yg terpilih itu adalah representasi, pantulan dari warga kita. Maka yang harusnya diperbaiki adalah warga kita," pungkasnya.