Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 April 2021 | 19.14 WIB

Terduga Teroris di Mabes Polri Tak Peduli Senjata, Hanya Cari Mati

LONE WOLF: Zakiah Aini diduga membawa airgun Hingga kemarin belum diketahui asal senjata tersebut. (MABES POLRI) - Image

LONE WOLF: Zakiah Aini diduga membawa airgun Hingga kemarin belum diketahui asal senjata tersebut. (MABES POLRI)

JawaPos.com - Pelaku penyerangan teror ke Markas Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) kemarin, diduga membawa senjata angin mirip airgun. Tetapi terduga pelaku terorisme berinisial ZA itu akhirnya dilumpuhkan oleh aparat.

Pengamat terorisme Ridlwan Habib menyampaikan, pelaku terorisme penyerang Mabes Polri diduga mempunyai motivasi untuk mencari kematian. Meski membawa senjata, hal itu tidak terlalu diutamakan, karena tujuannya ingin mati dengan “mulia”.

’’Ideologi yang mencari kematian, jadi buat dia tidak penting ini adalah senjata asli, senjata rakitan, ada korban atau tidak, karena yang dia cari itu apa? Dia cari mati. Jadi memang pemahaman mereka memang seperti itu,’’ kata Ridlwan dihubungi JawaPos.com, Kamis (1/4).

Pelaku teror penyerang Mabes Polri yang berinisial ZA itu berideologi ISIS. Ridlwan menyebut, penyerang Mabes Polri yang berideologi ISIS itu mempunyai motivasi untuk mati syahid, ideologi tersebut dinilai menyesatkan. ’’Motivasi mereka kan memang mencari kematian yang mulia, ini ideologi sesat, ideologi sesat mereka seperti itu. Jadi bagi kelompok-kelompok seperti ini meledakkan di gereja, menyerang polisi itu adalah sesuatu yang mulia,’’ ujar mantan wartawan Jawa Pos itu.

Terkait masifnya pelaku teror yang dilakukan oleh kelompok perempuan, sambung Ridlwan, mereka yang masuk ke dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) simpatisan ISIS, menganggap perempuan dan laki-laki sama. Dia memandang, perempuan dan laki-laki di jaringan JAD sama-sama sebagai pejuang teror.

’’Jadi bagi mereka sama saja, sama-sama sebagai pejuang, sama-sama sebagai warior. Jadi ini lah bedanya terorisme di era JI (Jamaah Islamiah), kalau di era JI, bom Bali satu misalnya itu mereka melarang keras perempuan untuk ikut, perempuan dan anak-anak. Tetapi yang sekarang (JAD) dibolehkan, bahkan dinilai sama, antara laki-laki dan perempuan itu derajatnya sama,’’ urai pria asal DI Jogjakarta itu.

Oleh karena itu, Ridlwan mengharapkan ulama dan tokoh masyarakat bisa bersama-sama membantu pemahaman ideologi sesat tersebut. Hal ini untuk mencegah berkembangnya ideologi radikalisme di Indonesia. ’’Itu yang saya kira pemahaman ini, yang harus disembuhkan oleh ulama-ulama kita,’’ harap alumnus Universitas Indonesia (UI) itu.

Sebagaimana diketahui, Mabes Polri diserang pelaku terorisme berinisial ZA pada Rabu (31/3) sekitar pukul 16.30 WIB. Perempuan berusia 25 tahun itu kemudian tewas ditembak aparat.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, pelaku teroris penyerang Mabes Polri berinisial ZA. Listyo menyebut, saat melancarkan aksinya pelaku hanya seorang diri atau lone wolf. Perempuan kelahiran 14 September 1995 itu juga berdasarkan hasil pendalaman, berideologi radikal ISIS. Hal ini setelah Polri menelusuri identitas pelaku.

’’Berdasarkan indentifikasi sidik jari dan ternyata identitasnya sesuai, kemudian hasil profiling yang bersangkutan, maka yang bersangkutan adalah tersangka. Pelaku lone wolf yang berideologi radikal ISIS, dibuktikan dari postingan yang bersangkutan di sosial media,’’ tandas Listyo dalam konferensi pers di Kompleks Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) malam. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=PCJNlqDqjXo

 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore