Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Februari 2023 | 23.36 WIB

Fenomena Segmentatif, Tidak Semua Bisa Diterima di Senior Living

MANDIRI: Para penghuni STW RIA Pembangunan berkreasi dalam kelompok. Aktivitas tersebut mengasah kognitif. (STW RIA Pembangunan untuk Jawa Pos) - Image

MANDIRI: Para penghuni STW RIA Pembangunan berkreasi dalam kelompok. Aktivitas tersebut mengasah kognitif. (STW RIA Pembangunan untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Mampu membayar tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi Sasana Tresna Werdha (STW) RIA Pembangunan untuk menerima penghuni baru. Bak masuk kampus negeri favorit, seleksinya panjang dan susah.

Sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Yusar menyatakan, paradigma masyarakat Indonesia terhadap senior living atau senior house mulai berubah. Jika tadinya tak dilirik karena bisa memantik pandangan negatif terhadap keluarganya, senior living kini lebih diminati. Itu supaya kebutuhan komunikasi mereka terpenuhi.

Menurutnya, ini terjadi lantaran mereka sering merasakan “kehampaan” karena tidak bekerja lagi usai pensiun. Mereka juga kesepian karena saluran interaksinya terputus. ”Sebelumnya mereka bisa berinteraksi dengan rekan kerjanya,” ujarnya, Jumat (24/2).

Lebih lanjut dia menjelaskan, para lansia di masa sekarang tergolong dalam kategori baby boomers. Mereka terbiasa produktif. Kondisi ini sezaman dan sejalan dengan industrialisasi besar-besaran pasca Perang Dunia II. Industrialisasi tersebut yang mendorong terjadinya urbanisasi atau proses pengkotaan yang bercirikan pada produktivitas. Membuat manusia untuk aktif, terutama dalam bekerja.

Selain itu, proses pengkotaan ini tidak hanya membuat lahan bermukim terbatas namun juga aktivitas kelompok usia produktif sangat tinggi untuk bekerja. Kondisi ini membuatnya tidak memiliki waktu untuk orang tuanya atau para lansia. Akibatnya sering ditemui para lansia yang mengalami kesepian atau merasa diesklusikan dari masyarakat.

Urbanisasi tersebut memunculkan pemikiran untuk “memberi hunian baru” bagi para lansia dengan penghuninya sesama lansia. Dengan hunian baru ini, para lansia dapat berinteraksi satu sama lain dan terhindar dari kesepian. Tentu saja hunian baru ini harus sesuai dengan standar yang dimiliki. Harus yang bagus, memadai untuk dihuni, memiliki fasilitas perawatan bagi lansia, dan ada teman interaksi bagi orang tuanya.

Di sisi lain, bagi para pebisnis, tentu saja hal ini bisa dipandang sebagai peluang usaha dan investasi. Selain mendapatkan keuntungan berasal sewa yang ditarik dari keluarga si lansia, ada peluang usaha caregiver. Untuk mendapatkan tenaga caregiver ini, dibangunlah bisnis pendidikan caregiver dan divalidasi dengan sertifikat caregiver profesional. Kombinasi fasilitas memadai dan tenaga caregiver yang profesional pun akhirnya jadi pendorong kelompok usia produktif untuk lebih percaya menyerahkan pengurusan orang tuanya ke senior living.

Hal ini, lanjut dia, sepertinya juga telah diamati oleh anak-anak muda. Mereka tidak menginginkan menjadi lansia kesepian. Karenanya, banyak dari anak muda yang sudah mulai berpikir untuk tinggal di senior living/ retirement home ketika mereka pensiun. ”Dan saya kira ada pergeseran juga bahwa anak muda sekarang berpikiran untuk tidak menjadi beban bagi anak-anaknya kelak,” ungkapnya.

Menurutnya, jika sebelumnya orang tua menuntut anak untuk mengurus mereka saat tua, maka dewasa ini tuntutan tersebut semakin melonggar. Mungkin, jika dijabarkan dalam kalimat akan jadi seperti ini: kalian (anak-anak, red) tidak perlu merasa wajib mengurus kami (orang tua, red), hidupmu adalah hidupmu, hiduplah sesuai keinginanmu.

”Bukan hanya anak muda, lansia yang tergolong fase baby boomers akhir juga tampaknya telah memiliki pemikiran bahwa anak tidak berkewajiban mengurus orang tuanya,” sambungnya.

Namun perlu digaris bawahi, kata dia, yang memiliki pemikiran seperti ini bersifat segmentatif. Yakni, pada kaum muda kelas menengah progresif. Dan berpikiran terbuka, tentunya. Sebaliknya, pada kelas bawah atau kelompok yang tradisional, hal ini masih belum dapat diterima.

Masih banyak masyarakat yang belum lazim menyerahkan pengurusan orang tua kepada senior living. Bahkan, banyak yang menilai “membuang orang tua”. Sebab, orang tua/lansia bagi masyarakat Indonesia dan Asia Timur umumnya, dipandang sebagai orang harus dirawat, dihormati, dan disenangkan. Sehingga, ada semacam pelanggaran norma dan perasaan bersalah jika menyerahkan pengurusan orang tua kepada senior living.

”Secara makro boleh dikatakan bahwa ada kenaikan tingkat kesejahteraan sehingga mampu membayar sewa panti dan juga fasilitasnya. Namun sekali lagi, fenomena ini masih segmentatif,” pungkasnya.

Photo

KREATIF: Sinta mengisi waktu luang dengan menggambar Rabu (22/2) lalu. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore