Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Februari 2025 | 05.20 WIB

Psikologi Menjelaskan Mengapa Memberitahu Orang Lain tentang Tujuan Anda adalah Kesalahan Fatal, Alasan Stay Private itu Perlu!

Ilustrasi telusuri apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengubah tujuan menjadi topik pembicaraan dan mengapa tujuan lebih baik dirahasiakan. - Image

Ilustrasi telusuri apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengubah tujuan menjadi topik pembicaraan dan mengapa tujuan lebih baik dirahasiakan.

JawaPos.com - Memberitahu orang lain tentang rencana besar mungkin tampak tidak berbahaya, bahkan mungkin membantu untuk tetap bertanggung jawab. Namun, kenyataannya, hal ini dapat menjadi bumerang dengan cara yang mengejutkan.

Kamu mungkin akan termotivasi setelah mengumumkan dan berbagi tujuan dengan orang-orang di sekitarmu. Namun, anehnya, euforia itu tampaknya tidak pernah terwujud dalam upaya berkelanjutan.

Beberapa orang sering kali mengalami kehilangan semangat untuk mencapai tujuannya setelah mengumumkannya di depan umum. Wawasan psikologi dapat menunjukkan bahwa hal ini bukanlah suatu kebetulan.

Dilansir dari Hack Spirit, mari kita telusuri apa yang sebenarnya terjadi saat kita mengubah tujuan menjadi topik pembicaraan dan mengapa tujuan lebih baik dirahasiakan.

1. Rasa pencapaian yang salah

Anda bahkan belum mulai mengambil langkah nyata, tetapi ada perasaan puas yang aneh hanya dengan mengucapkannya lantang. Itu bukan hanya imajinasi Anda.

Dalam studi terkenal tahun 2009, psikolog Peter Gollwitzer menemukan bahwa saat orang mengungkapkan niatnya secara publik, kecil kemungkinan mereka akan menindaklanjutinya.

Hal ini karena membicarakan tujuan dapat menciptakan perasaan selesai sebelum waktunya. Otak kita mudah tertipu untuk berpikir bahwa pengakuan sosial yang kita terima adalah pengganti kemajuan yang sebenarnya.

Setiap kali mereka mengutarakan tujuan terlalu cepat, mereka akan merasa seolah-olah sudah setengah jalan mencapai tujuan itu. Namun kepercayaan diri sejak dini itu tidak diwujudkan dalam kerja keras sehari-hari untuk mencapainya.

Ini membuatnya mulai mengandalkan tingginya persetujuan eksternal, ketimbang kepuasan nyata yang datang dari membuat kemajuan nyata. Ini seperti membanggakan diri telah berlari maraton bahkan sebelum mulai berlatih.

Membicarakannya memang terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi tidak akan membuat Anda semakin dekat dengan garis finis.

2. Validasi eksternal dapat menggagalkan dorongan

Kita pada hakikatnya adalah makhluk sosial, jadi saat seseorang memuji aspirasi kita, kita akan merasakan ledakan zat kimia yang menimbulkan perasaan senang.

Seperti yang dikemukakan oleh Carl Rogers, salah satu pendiri psikologi humanistik, individu mencari penghargaan positif dari orang-orang di sekitarnya.

Saat kita berbagi tujuan kita, kita sering kali langsung mendapat tepukan di punggung, yang dapat menggantikan motivasi yang lebih dalam dan didorong dari diri sendiri untuk membuat kita terus maju dalam jangka panjang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore