
Ilustrasi: Ibu dan anak. (Pexels)
JawaPos.com – Banyak dari kita yang tumbuh dalam lingkungan di mana orang tua sangat melindungi dan menjaga kita dari berbagai kesulitan hidup.
Orang tua yang overprotektif sering kali berusaha memastikan anak mereka tidak menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau bahkan rasa sakit, termasuk dalam mengambil keputusan dan memilihkan teman, dengan niat agar sang anak tetap aman dan terlindungi.
Namun, meskipun niat mereka baik, perlindungan yang berlebihan ini bisa meninggalkan dampak jangka panjang yang tidak disadari.
Melansir dari laman The Blog Herald, Selasa (21/1), artikel ini akan membahas 8 hal yang sering kali muncul pada orang dewasa yang dibesarkan dalam lingkungan yang overprotektif.
Beberapa orang dewasa dapat merasa kesulitan dalam membuat keputusan karena saat kecil mereka terlalu dilindungi oleh orang tuanya. Mereka tidak diberi kesempatan untuk memilih sendiri, seperti memilih pakaian atau makanan, yang mengurangi kemampuan mereka dalam membuat keputusan.
Ketika pola ini berlanjut hingga dewasa, mereka bisa merasa cemas atau bingung saat dihadapkan pada keputusan, karena tidak terbiasa melakukannya. Ini bukan karena mereka tidak bisa membuat keputusan, tetapi karena kurangnya pengalaman.
Jika orang tua selalu melindungi anak dari kegagalan dan kekecewaan, anak tersebut tidak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari hidup. Mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar bangkit setelah jatuh. Akibatnya, mereka bisa merasa dunia luar lebih menakutkan.
Jika seseorang tumbuh terlalu dilindungi, saat dewasa mereka cenderung memilih jalan yang aman dan menghindari risiko. Meskipun keluar dari zona nyaman terasa menakutkan, itu adalah bagian dari pertumbuhan dan belajar untuk berkembang.
Anak yang terlalu dilindungi saat kecil dapat sering mengalami masalah kepercayaan diri saat mereka dewasa.
Penelitian dari University of Colorado Boulder menunjukkan bahwa anak-anak yang diberi kesempatan untuk mengambil risiko dan belajar dari kesalahan cenderung memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang lebih baik.
Jika seorang anak selalu dilindungi dari kegagalan, mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengatasi tantangan. Akibatnya, mereka bisa tumbuh dengan rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri dan dalam membuat keputusan.
Jika orang tua terlalu melindungi anak-anaknya, anak tersebut tidak diberi banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai situasi sosial. Akibatnya, keterampilan sosial anak tersebut bisa terhambat.
Saat dewasa, mereka bisa kesulitan untuk mengungkapkan pikiran dan emosi mereka secara terbuka, atau bahkan kesulitan dalam memahami perasaan orang lain. Kekurangan dalam kecerdasan emosional ini dapat membuat mereka sulit membangun hubungan yang dalam dan bermakna dengan orang lain.
