
Ilustrasi: Wanita yang sedang minum kopi. (Pexels)
JawaPos.com - Kecemasan merupakan suasana hati seseorang yang memicu stres bahkan depresi. Hal ini bisa disebabkan karena tekanan batin, masalah, atau kebiasaan sehari-hari.
Dikutip dari laman Alodokter, rasa cemas merupakan merupakan reaksi alami tubuh terhadap stres yang sebenarnya bermanfaat agar kita tetap waspada. Tapi jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini disebut dengan gangguan kecemasan.
Kondisi kecemasan ini dapat disebabkan oleh adanya masalah fungsi otak yang mengatur rasa takut dan emosi, sehingga kita perlu sadar untuk menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan rasa cemas.
Baca Juga: Top 5 Shio yang Beruntung Besok Minggu 12 Januari 2025 Menurut Astrologi Tiongkok, Apakah Anda Salah Satunya?
Kita semua pernah mengalaminya, seperti berbaring di tempat tidur, mengulangi percakapan canggung, atau mengkhawatirkan presentasi besok. Ini disebut berpikir berlebihan, dan ini adalah kebiasaan umum yang dimiliki banyak dari kita.
Berpikir berlebihan seperti treadmill bagi pikiran karena membuatmu terus bergerak tetapi tidak membawamu kemana-mana. Faktanya, hal ini hanya membuat kamu lelah dan menurut psikologi, ini adalah salah satu perilaku yang dapat memperparah kecemasan.
Berpikir berlebihan sering kali merupakan akibat dari upaya mengendalikan setiap aspek kehidupan kita atau takut akan hal yang tidak diketahui, tapi mengakui perilaku ini adalah langkah pertama dalam mengelola kecemasan.
Baca Juga: Segudang Manfaat Kunyit Untuk Kesehatan Tubuh Belum Banyak Yang Tau, Dapat Menurunkan Kolesterol
3. Menghindari pemicu kecemasan
Menghindari hal yang membuat kamu cemas mungkin bisa memberikan kelegaan sementara, tapi tidak menyelesaikan masalah. Ini seperti membalut luka yang dalam dan menutupinya, tapi tidak menyembuhkannya dan malah memperburuk lukanya.
Saat menghindari hal yang membuat kita takut, kita membiarkan kecemasan itu menang. Alih-alih lari dari ketakutan, psikologi mendorong kita untuk menghadapinya secara langsung.
4. Kurangnya aktivitas fisik
Kita semua tahu bahwa olahraga itu baik untuk tubuh, saat berolahraga, tubuh akan melepaskan endorfin, zat kimia yang diketahui menciptakan perasaan bahagia dan euforia.
Endorfin ini dapat membantu melawan kecemasan dan depresi sehingga ketika kita kurang bergerak, serta kehilangan penguat suasana hati alami ini. Di sisi lain, gaya hidup yang kurang gerak dapat memicu kecemasan.
Tanpa aktivitas fisik yang teratur, tubuh dan pikiran bisa menjadi stres sehingga menyebabkan tingkat kecemasan meningkat. Menambahkan beberapa olahraga ke dalam rutinitas harian, tidak berarti kamu harus mulai berlatih untuk maraton.
5. Mengabaikan perawatan diri
Dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, kita sering mengabaikan kebutuhan sendiri. Kita mungkin memaksakan diri untuk selalu ada untuk orang lain, tapi lupa menjaga diri sendiri.
Perawatan diri bukanlah suatu kemewahan atau tindakan egois, melainkan suatu kebutuhan. Mengabaikan perawatan diri dapat menyebabkan kelelahan, yang kemudian memicu kecemasan.
Baik itu membaca buku, mandi santai, atau sekadar duduk diam selama beberapa menit setiap hari, momen perawatan diri ini dapat membantu mengurangi kecemasan.
Kamu berhak merasa tenang, damai, dan menjaga kesejahteraan sendiri adalah bagian penting dari hal tersebut.
6. Penundaan
Kita semua pernah mengalaminya, seperti proyek dengan tenggat waktu semakin dekat, tumpukan cucian yang bertambah selama berhari-hari, atau email yang ingin kita kirim.
Tugas tersebut tampaknya berat sehingga kita menundanya, dan berkata pada diri sendiri bahwa akan menanganinya nanti. Penundaan adalah cara kita mencoba menghindari ketidaknyamanan atau ketakutan.
Namun masalahnya adalah semakin lama kita menunggu, tugas tersebut akan terasa semakin besar dan menakutkan. Hal ini dapat menciptakan awan kekhawatiran yang mengikuti kemana-mana dan menambah kecemasan.
7. Menjadi orang yang menyenangkan orang lain
Selalu mengatakan ya dapat memperbanyak teman, kolega, atau anggota keluarga tercinta. Tapi jika kamu terus-menerus berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang lain bahagia, mungkin akan semakin cemas.
Ketika kita terus-menerus mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri, kita akan merasa tertekan, stres, dan tidak dihargai. Hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan meningkatkan perasaan cemas.
Menetapkan batasan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga penting untuk kesehatan mental. Begitu kamu mulai memprioritaskan kebutuhan sendiri, kemungkinan besar akan melihat penurunan tingkat kecemasan.
8. Tidak mencari bantuan
Mungkin hal yang paling penting untuk diingat adalah, kamu tidak harus menghadapi kecemasan sendirian. Banyak dari kita cenderung menginternalisasikan perjuangan, serta percaya bahwa kita harus mampu menangani semuanya sendiri.
Kecemasan bukanlah sesuatu yang memalukan karena merupakan bagian dari kehidupan banyak orang, dan ada profesional di luar sana yang dapat membantu kamu mengelolanya.
Baik itu terapis, konselor, atau dokter tepercaya, orang-orang ini memiliki alat dan pengetahuan untuk membantumu mengatasi kecemasan.
